viral

Jam Kiamat Menunjukkan 89 Detik Lebih Dekat dengan Kehancuran, Beberapa Pertanda Ini Dianggap Masuk Akal. Apa itu Jam Kiamat ?

Rabu, 29 Januari 2025 | 21:48 WIB
Ilustrasi jam kiamat yang menunjukkan dunia lebih dekat dengan kehancuran. (Kalimantansatu.com/Dok. Freepik)

Selain itu, krisis iklim yang semakin memburuk juga menjadi pendorong utama keputusan ini.

Ancaman Nuklir: Invasi Rusia ke Ukraina

Daniel Holz, Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin of the Atomic Scientists, menjelaskan bahwa meskipun faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tahun ini, seperti risiko nuklir, perubahan iklim, dan penyalahgunaan teknologi biologi, bukanlah hal baru, upaya untuk mengatasinya justru belum cukup efektif dan bahkan semakin memburuk.

Holz menegaskan bahwa ancaman nuklir tetap menjadi isu utama dalam keputusan ini.

"Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tahun ini—risiko nuklir, perubahan iklim, penyalahgunaan teknologi biologi, dan berbagai kemajuan teknologi lainnya seperti kecerdasan buatan—sebenarnya bukan hal baru. Namun, kita telah melihat bahwa upaya untuk mengatasinya masih belum cukup, bahkan dalam banyak kasus justru semakin memburuk," kata Holz, seperti yang dilansir oleh Reuters pada Rabu, 29 Januari 2025.

Baca Juga: Penuh Gelak Tawa, Momen Lucu Presiden Prabowo Subianto dan PM Malaysia Anwar Ibrahim, Gara-gara Pajangan Mobil F1

Ancaman nuklir terus menjadi perhatian utama, terutama terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 2022.

Konflik ini telah menimbulkan ketegangan besar di Eropa dan memicu kekhawatiran tentang kemungkinan penggunaan senjata nuklir.

"Perang di Ukraina terus menjadi sumber risiko nuklir yang besar. Konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang nuklir, baik karena kesalahan perhitungan maupun keputusan yang gegabah," tambah Holz.

Kekhawatiran ini semakin kuat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kebijakan baru pada November 2023 yang menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir.

Doktrin baru ini memberi Putin lebih banyak alasan untuk menggunakan arsenal nuklir terbesar di dunia sebagai respons terhadap serangan konvensional dari Barat.

Selain itu, Rusia juga menolak untuk melanjutkan negosiasi perjanjian baru dengan Amerika Serikat yang akan menggantikan New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), yang akan berakhir pada 2026.

Moskow malah meminta agar perjanjian semacam itu diperluas untuk mencakup negara-negara lain.

Baca Juga: Neymar Resmi Pergi Tinggalkan Al-Hilal, ke Manakah Pelabuhan Baru sang Bintang Brazil Itu Selanjutnya ?

Ketegangan di Timur Tengah dan Asia

Halaman:

Tags

Terkini