KALIMANTANSATU.COM — Bank Dunia menganggap upaya hilirisasi tambang Indonesia berpotensi memperkuat nilai tambah ekonomi.
Bank Dunia juga menyebut Indonesia sebagai salah satu pelopor dalam memanfaatkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah untuk mendorong industrialisasi.
Dalam laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update April 2026 yang dikutip Kamis (9/4/2026), Bank Dunia menyebut Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai eksportir produk tambang setengah jadi, seperti besi, baja paduan, tembaga setengah murni, dan bubuk seng.
Baca Juga: Sorotan Bank Dunia ! Danantara Dianggap Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2027
Namun, Indonesia juga dinilai memiliki potensi keunggulan komparatif pada produk hilir seperti pegas berbahan besi dan baja, produk canai datar dari baja tahan karat, serta berbagai produk berbasis nikel yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Produksi produk-produk tersebut saat ini dinilai masih berada di bawah kapasitas potensialnya.
Oleh karena itu, Bank Dunia menilai program hilirisasi masih memiliki ruang untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
"Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan terukur, Indonesia dapat menggantikan pembatasan ekspor yang bersifat distorsif guna mendorong pengembangan aktivitas pertambangan yang lebih hijau dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," jelas Bank Dunia dalam laporan tersebut.
Bank Dunia menyebut Indonesia sebagai contoh nyata dalam memanfaatkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah sebagai momentum penting bagi hilirisasi.
Lembaga tersebut mengatakan bahwa Indonesia telah konsisten menjalankan kebijakan tersebut sejak 2014 dan kerap menghadapi tantangan dari komunitas internasional, termasuk World Trade Organization (WTO).
Namun, Bank Dunia mencatat Indonesia berhasil mendatangkan investasi signifikan di sektor pengolahan mineral, bahkan dalam jangka pendek.
"Data menunjukkan bahwa pelarangan ekspor berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produksi dan ekspor Indonesia di produk-produk nikel serta penanaman modal asing di ekstraksi dan pengolahan nikel," imbuh Bank Dunia.
Sebagai dampaknya, Bank Dunia menilai kapasitas smelter Indonesia kini telah matang. Namun, untuk mengoptimalkan kontribusinya terhadap perekonomian, Indonesia dapat melakukan reinvestasi pajak ekspor atas produk hilirisasi tambang melalui subsidi berbasis kinerja (performance-based subsidy) yang transparan dan diarahkan pada pengembangan industri hilir prioritas.
Artikel Terkait
Bakal Dapat 50% Nih, Anak Usaha Medco Energi Internasional (MEDC) Tandatangani Kontrak Bagi Hasil Cendramas dengan Petronas Malaysia
Asyik, Ada Saham Bonus Wintermar Offshore Marine untuk Para Investornya! Cek Berapa Rasio & Jadwal Dividen WINS dari Kapitalisasi Saldo Laba
Cari Ide Bisnis Modal 5 Juta Tahun 2026 ? Coba Usaha Sewa Perlengkapan Pesta, Segini Estimasi Modal dan Keuntungan Uang yang Bisa Didapatkan
Realisasi Program Ganti Atap Rumah Wartawan Terus Berjalan, Penerima Manfaat Bagikan Cerita Keunggulan Alduro Dibandingkan Asbes
Dinamika Industri Migas Semakin Menantang, Elnusa Komitmen Transformasi Menjadi Low-Cost Operator ! Bos ELSA Beberkan Strateginya
Potensi Cuan Nih ! Adira Dinamika Multi Finance Bagi Dividen Saham ADMF 2025, Cek Jadwal Pembayaran
Biaya Haji 2026 Turun Rp2 Juta di era Presiden Prabowo Subianto, Penyelenggara Perjalanan Anggap Bentuk Perhatian Meringankan Para Jemaah
Sorotan Bank Dunia ! Danantara Dianggap Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2027
Saham ZINC Kena Suspensi BEI di Seluruh Pasar, Masuk Papan Pemantauan Khusus Lebih dari 1 Tahun
Sinergitas Pemkab Pulau Taliabu dan ICCN untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Melalui Ekosistem Kota/Kabupaten Kreatif