Bank Dunia Apresiasi Hilirisasi Tambang Indonesia, Anggap Ampuh Beri Nilai Tambah bagi Ekonomi

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Jumat, 10 April 2026 | 10:44 WIB
Bank Dunia Apresiasi Hilirisasi Tambang Indonesia, Anggap Ampuh Beri Nilai Tambah bagi Ekonomi (Kalimantansatu.com)
Bank Dunia Apresiasi Hilirisasi Tambang Indonesia, Anggap Ampuh Beri Nilai Tambah bagi Ekonomi (Kalimantansatu.com)

KALIMANTANSATU.COM — Bank Dunia menganggap upaya hilirisasi tambang Indonesia berpotensi memperkuat nilai tambah ekonomi.

Bank Dunia juga menyebut Indonesia sebagai salah satu pelopor dalam memanfaatkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah untuk mendorong industrialisasi.

Dalam laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update April 2026 yang dikutip Kamis (9/4/2026), Bank Dunia menyebut Indonesia memiliki keunggulan komparatif sebagai eksportir produk tambang setengah jadi, seperti besi, baja paduan, tembaga setengah murni, dan bubuk seng.

Baca Juga: Sorotan Bank Dunia ! Danantara Dianggap Menjadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2027

Namun, Indonesia juga dinilai memiliki potensi keunggulan komparatif pada produk hilir seperti pegas berbahan besi dan baja, produk canai datar dari baja tahan karat, serta berbagai produk berbasis nikel yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Produksi produk-produk tersebut saat ini dinilai masih berada di bawah kapasitas potensialnya.

Oleh karena itu, Bank Dunia menilai program hilirisasi masih memiliki ruang untuk memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.

"Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan terukur, Indonesia dapat menggantikan pembatasan ekspor yang bersifat distorsif guna mendorong pengembangan aktivitas pertambangan yang lebih hijau dan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi," jelas Bank Dunia dalam laporan tersebut.

Baca Juga: Biaya Haji 2026 Turun Rp2 Juta di era Presiden Prabowo Subianto, Penyelenggara Perjalanan Anggap Bentuk Perhatian Meringankan Para Jemaah

Bank Dunia menyebut Indonesia sebagai contoh nyata dalam memanfaatkan kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah sebagai momentum penting bagi hilirisasi.

Lembaga tersebut mengatakan bahwa Indonesia telah konsisten menjalankan kebijakan tersebut sejak 2014 dan kerap menghadapi tantangan dari komunitas internasional, termasuk World Trade Organization (WTO).

Namun, Bank Dunia mencatat Indonesia berhasil mendatangkan investasi signifikan di sektor pengolahan mineral, bahkan dalam jangka pendek.

"Data menunjukkan bahwa pelarangan ekspor berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produksi dan ekspor Indonesia di produk-produk nikel serta penanaman modal asing di ekstraksi dan pengolahan nikel," imbuh Bank Dunia.

Sebagai dampaknya, Bank Dunia menilai kapasitas smelter Indonesia kini telah matang. Namun, untuk mengoptimalkan kontribusinya terhadap perekonomian, Indonesia dapat melakukan reinvestasi pajak ekspor atas produk hilirisasi tambang melalui subsidi berbasis kinerja (performance-based subsidy) yang transparan dan diarahkan pada pengembangan industri hilir prioritas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X