KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA - Ekonom global menilai fondasi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang solid di tengah ketidakpastian global.
Chief Economist Shan Saeed dari IQI Global menegaskan bahwa kekuatan fundamental tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga kisaran 6%.
Dalam pernyataannya, Shan Saeed mengingatkan bahwa dunia saat ini tidak berada dalam kondisi normal.
Tekanan global yang datang dari berbagai arah, mulai dari gejolak geopolitik hingga dinamika pasar keuangan, membuat hanya negara dengan fondasi kuat yang mampu bertahan dan melaju.
“Saya ingin mulai dengan satu hal: kita tidak hidup di masa yang normal. Di tengah kondisi global yang penuh tekanan seperti sekarang, negara yang punya demografi kuat, stabilitas makroekonomi, pertumbuhan yang konsisten, dan disiplin kebijakan—mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan ini,” ujarnya, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Ia menilai Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang memiliki daya tahan tersebut.
Indikator makroekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga, mulai dari rasio utang terhadap PDB yang masih di bawah 40 persen, defisit anggaran di bawah 3 persen, hingga inflasi yang terkendali.
“Kalau bicara Indonesia, rasio utang terhadap PDB masih di bawah 40%, defisit anggaran di bawah 3%, inflasi juga terkendali. Bank Indonesia juga melakukan pekerjaan yang bagus menjaga inflasi di bawah 3,5%. Di banyak negara maju, inflasi sudah tembus 5–6%,” terangnya.
Menurutnya, kombinasi indikator tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia berada dalam kondisi sehat.
Stabilitas ini menjadi faktor kunci yang mendorong kepercayaan pasar sekaligus membuka ruang untuk pertumbuhan yang lebih tinggi.
Shan Saeed menekankan bahwa ada empat pilar utama yang menopang optimisme terhadap Indonesia, yakni stabilitas makroekonomi, konsistensi pertumbuhan, disiplin fiskal, serta kemampuan dalam mengeksekusi kebijakan.
“Indonesia sejauh ini cukup solid. Dan saya tetap optimistis terhadap Indonesia karena empat hal utama: stabilitas makroekonomi, stabilitas pertumbuhan, disiplin fiskal, dan eksekusi kebijakan,” tambah Shan.
Artikel Terkait
Batu Creative Hub Dipercaya Sebagai Pengelola Program Perintis Berdaya Connect di Kota Batu
Taksi Green SM Dilaporkan Masih Tergeletak pada Perlintasan Rel, Diduga Jadi Penyebab Awal Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi
Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi: Presiden Prabowo Instruksikan Benahi 1.800 Perlintasan Sebidang untuk Cegah Lakalantas
Investigasi Krusial ! Presiden Prabowo Minta Penanganan Maksimal Korban Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi
Alasan Menteri PPPA Usul Pemindahan Gerbong Perempuan ke Tengah Rangkaian KRL Setelah Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur
Cerita Penumpang KRL Sebelum Terjadi Kecelakaan dengan Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Tubuh Terbanting dan Terseret
Detik-detik Kecelakaan Kereta Api Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur Terekam Jelas pada Siaran Live YouTuber dari Dalam
Tak Hanya Kecelakaan di Bekasi Timur, Ini 5 Insiden Viral Taksi Listrik Green SM ! Terbaru Disebut Jadi Efek Domino KA Agro Bromo Anggrek vs KRL
[KOLOM OPINI] Istana Ganti Komando Komunikasi: Pemerintah Lawan Algoritma, Tidak Bisa Hanya Andalkan Segelintir Media Besar !
Lindungi Industri dan Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Indonesia Bebaskan Bea Masuk Bahan Baku Plastik Selama 6 Bulan