“Ini bagian dari upaya kita menuju kemandirian energi. Tahun ini kita tidak impor solar karena sudah digantikan biofuel dari sawit,” tegasnya.
Senada, Direktur Utama Perum Bulog menambahkan bahwa tren peningkatan stok masih terus berlanjut. Saat ini, stok beras telah mencapai 4,3 juta ton dan ditargetkan meningkat menjadi 4,5 juta ton pada akhir bulan.
“Penyerapannya juga sangat tinggi. Dari Januari hingga Maret sudah mencapai 1,3 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah, belum pernah terjadi sebelumnya dalam periode tiga bulan,” jelasnya.
Ke depan, pemerintah juga menargetkan pengembangan bioetanol melalui program E20, yaitu campuran 20 persen etanol dalam bensin yang bersumber dari komoditas pertanian seperti jagung, ubi, dan tebu.
Program ini diharapkan menjadi lompatan besar dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala Badan Pengelola BUMN, Tedi Bharata, menegaskan bahwa BUMN akan menjadi motor penggerak dalam mendukung transformasi sektor pangan dan energi melalui penguatan kolaborasi dengan Kementerian Pertanian.
“BUMN siap mengoptimalkan potensi yang ada untuk memastikan Indonesia semakin mandiri dan mampu menghadapi tantangan global,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas strategis, termasuk beras dan jagung untuk pakan, serta surplus pada komoditas ayam dan telur.
Ia juga menegaskan bahwa pengembangan bioenergi berbasis pertanian menjadi salah satu kunci dalam mendorong kemandirian energi nasional.
“Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, kita tidak hanya mencapai swasembada pangan, tetapi juga bergerak menuju swasembada energi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mentan Amran menyebutkan bahwa capaian sektor pertanian turut mendorong peningkatan kesejahteraan petani serta kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai 5,7 persen, tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Selain itu, harga pupuk juga tercatat turun hingga 20 persen, yang menjadi kabar baik bagi petani dalam menekan biaya produksi.
Kementan menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi kuat antara pemerintah, BUMN, dan petani dalam menjalankan arahan Presiden, sekaligus menjadi momentum penting di tengah dinamika geopolitik global.