Kantongi 10 Perusahaan CPO
Purbaya menjelaskan, tim tersebut telah memeriksa secara acak pengapalan CPO dari 10 perusahaan eksportir Indonesia.
"Jadi saya pilih, saya suruh pilih 10 perusahaan eksportir, perusahaan CPO (Crude Palm Oil)," tutur Purbaya.
"Lalu saya suruh cari pengapalan CPO-nya random, ship by ship, masing-masing perusahaan minimal 3, dipilih random juga pengapalannya," sambungnya.
Dari penelusuran itu, ditemukan perbedaan harga antara ekspor dari Indonesia ke Singapura dengan harga barang yang sama saat masuk ke Amerika Serikat (AS).
"Jadi kapalnya sih langsung dari Indonesia ke Amerika misalnya, tapi kertasnya dimainkan di Singapura," sebut Purbaya.
"Dulu kita enggak bisa deteksi, karena kita enggak tahu di Amerika seperti apa pricing-nya," tambahnya.
Rerata 2 Kali Lipat Dibanding Ekspor RI-Singapura
Dalam kasus ini, Purbaya menyebut rata-rata harga barang di negara tujuan mencapai dua kali lipat dibanding harga ekspor dari Indonesia ke Singapura.
"Dari kasus setiap perusahaan itu, rata-rata harga di Amerika atau di tujuan, dibanding harga yang kita jual dari sini ke Singapura, itu 2 kalinya," ungkapnya.
"Dari situ saya sudah rugikan setengah, setengah ya, setengah dari potensi pendapatan saya. Jadi kementerian keuangan saya rugi," jelas Purbaya.
Menkeu RI itu lantas menyinggung pola serupa juga ditemukan dalam ekspor batu bara ke India.
"Sama juga yang produk ekspor batu bara ke India juga ada kita temukan kas seperti itu, tapi belum sepuluh perusahaan ya, kita cuma beberapa aja," beber Purbaya.