Perlu dipahami bahwa tidak ada strategi yang mutlak lebih baik dalam segala kondisi. Kebanyakan investor profesional yang menerima dana tunai dalam jumlah besar sering kali menggunakan Strategi Hibrida, yakni membagi uang tunai tersebut menjadi 4 hingga 6 bagian, lalu masuk secara berkala selama 6–12 bulan ke depan.
Dengan cara ini, Anda tidak kehilangan kesempatan jika pasar mendadak naik, namun tetap memiliki amunisi cadangan untuk melakukan average down jika pasar tiba-tiba terkoreksi dalam.
(Prabu Warah)
Artikel Terkait
Alamak ! 3 Pejabat PDAM Bekasi Diduga Korupsi Proyek Pipa Air Bersih, Bikin Negara Boncos Rp4,5 Miliar
Persiapan DIKPI Bentuk Asosiasi Perguruan Tinggi Kajian Ilmu Kepolisian Indonesia, Menjadi Wadah Kolaboratif Penyelenggara Ilmu Kepolisian
Prabowo Ajak Warga Pakai Atap Ramah Lingkungan, Ternyata Sejalan dengan Program 'Ganti Atap' Kolaborasi Promedia Group Bersama SKI Pakai Alduro
Pakar Soroti Aspek Konstitusional dan Metodologi Audit BPKP, Jangan Ada Lagi Korban Ketidakpastian Hukum Kerugian Negara
Kini Program Ganti Atap Rumah Wartawan Sampai ke Tasikmalaya ! Cerita Jurnalis Mediapriangan.com Selama 1,5 Tahun Hidup di Bawah Atap Bocor
Bukan Keterbatasan ! Tak Perlu Lahan Luas, Hidroponik Sumbu Jadi Solusi Bertani di Perkotaan
Sinking Fund vs Emergency Fund: Strategi 'Kantong Ajaib' Agar Tabungan Utama Tak Pernah Jebol ! Keuangan Kamu Sering Goyah Setiap Akhir Tahun Tiba ?
Dilema Pelunasan KPR: KPR Tenor Panjang + Investasi vs Pelunasan Dipercepat, Lebih Baik Pakai Strategi Mana?
Anatomi Deposito BPR vs Bank Umum: Mana yang Lebih Aman untuk Imbal Hasil Maksimal ?
Rahasia Mengatur Portofolio Reksa Dana Berdasarkan Umur dan Profil Risiko, Racikannya Jelas Berbeda !