Efisiensi operasional sebagai kunci keberhasilan GTSI dalam menjaga profitabilitas juga didukung oleh implementasi strategi efisiensi biaya dan pengelolaan risiko yang lebih baik.
Optimalisasi rute pelayaran, digitalisasi operasional, serta pemanfaatan teknologi dalam monitoring pengelolaan kapal menjadi faktor utama dalam pencapaian ini.
Perbaikan rasio likuiditas dan solvabilitas yang dicapai pada tahun 2025 juga menunjukkan hasil pengelolaan keuangan Perusahaan yang tepat dan efektif.
Sepanjang tahun 2025, GTSI telah mengimplementasikan komitmennya pada prinsip Keberlanjutan (ESG).
Perseroan berhasil mempertahankan penggunaan bahan bakar LNG dan.LSFO untuk operasional kapal serta mencatatkan zero oil spill sebagai bentuk komitmen terhadap perlindungan lingkungan.
Dari aspek sosial, Perusahaan mencatatkan peningkatan durasi pelatihan sebesar 67% dibandingkan tahun 2024 serta peningkatan jumlah SDM yang mengikuti pelatihan sebesar 42%.
Dari aspek tata kelola, Perusahaan memastikan seluruh pembaruan sertifikasi ISO dan penyusunan berbagai kebijakan penting.
Fokus Strategis 2026
Yon Irawan menyampaikan, sepanjang tahun 2026, GTSI akan melanjutkan ekspansi bisnis melalui rencana pengembangan proyek regasifikasi, evaluasi peluang akuisisi atau kerja sama armada LNG Carrier berkapasitas menengah dan penjajakan peluang kerja sama yang lebih luas di bidang LNG.
"Kami juga akan mengoptimalkan utilisasi armada, optimalisasi biaya dan operasional bahan bakar serta peningkatan fleet reliability and operational exellence. Struktur permodalan dan disiplin keuangan juga akan diperkuat guna mendukung pertumbuhan jangka panjang," ungkapnya.
Yon juga menegaskan komitmen Perusahaan terhadap keberlanjutan. Perusahaan akan melanjutkan roadmap ESG & Strategi Keberlanjutan yang telah disusun dengan fokus pada tahap Performing, yaitu tahap implementasi kebijakan dan pelaksanaan proyek-proyek keberlanjutan yang telah direncanakan.
Berdasarkan Gas Market Report International Energy Agency (IEA), pertumbuhan permintaan gas Asia Pasifik pada 2026 diperkirakan kembali rebound menjadi >4% seiring tambahan pasokan LNG global yang naik lebih dari 7%.
Tren ini mengindikasikan fase ekspansi pasar yang konstruktif bagi pelaku industri pengangkutan LNG, termasuk GTSI.
"GTSI optimis dapat terus mengambil peran dalam menjembatani kebutuhan energi antarwilayah kepulauan di Indonesia melalui distribusi LNG berbasis maritim," pungkasnya.