Sungai Karang Mumus Saksi Peradaban Samarinda Kalimantan Timur. Masih Dijumpai, Peninggalan Bangunan Bersejarah yang Ditinggalkan oleh Warga Tionghoa

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Rabu, 15 November 2023 | 07:49 WIB
Klenteng Thien Ie Kong Samarinda Kalimantan Timur  (DOK. BPCB Kaltim )
Klenteng Thien Ie Kong Samarinda Kalimantan Timur (DOK. BPCB Kaltim )

KALIMANTANSATU.COM - Sahabat Generasi Emas, tahukah kamu Sungai Karang Mumus adalah salah satu anak Sungai Mahakam yang membelah kota Samarinda ke arah utara.

Sungai Mahakam sendiri merupakan sungai terpanjang di Indonesia, setelah sungai Barito.

Anak Sungai Karang Mumus merupakan sarana transportasi penting dalam menggerakkan sektor ekonomi, sosial dan budaya serta akses menuju kota-kota lainnya di Kalimantan Timur (Kaltim).

Karena itu di sekitaran Kawasan karang mumus sarat akan peninggalan bangunan-bangunan kuno bersejarah.

Sungai adalah saksi bagaimana sejarah peradaban tercipta.

Karena pertimbangan aliran sungailah, orang-orang bugis Wajo dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona hijrah dari kerajaan Gowa ke daerah kerajaan Kutai menetap sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) sebagai pemukiman baru mereka.

Baca Juga: Sejarah Samarinda dari Masa Kerajaan Sampai VOC ! Ternyata, Ibu Kota Kalimantan Timur Ini Berkembang dari 3 Kampung Pemukiman Suku Kutai Puak Melanti

Inilah cikal bakal kota Samarinda dan awal mula diperkenalkan nama Samarenda/Samarinda, yang pada akhirnya berdasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Samarinda nomor: 1 tahun 1988 tanggal 21 Januari 1988, pasal 1 berbunyi ditetapkan sebagai hari jadi Kota Samarinda pada tanggal 21 Januari 1668 M.

Dikutip dari laman BPCB Kaltim Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, sekitar tahun 1945 sampai 1950 disekitar Sungai Karang Mumus tepatnya di sepanjang jalan Pangeran Suriansyah dan Yos Sudarso banyak dibangun rumah-rumah kuno yang terbuat dari papan.

Hal ini disebabkan karena pada abad ke-20 Samarinda banyak didatangi etnis Tionghoa.

Dalam kedatangannya, mereka bertujuan untuk berdagang dengan membuka pertokoan yang berdekatan dengan pasar.

Tepatnya di sekitar kawasan Straat Te-eng atau yang kini dikenal Jalan Yos Sudarso, Bloem Straat atau Jalan Mulawarman, Jalan Niaga Timur eks Kompleks Pinang Barbaris serta kawasan lainnya.

Kedatangan awal etnis Tionghoa ke Kalimantan Timur telah dikonfirmasi sejak masa Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Namun pada abad ke-19 Hindia Belanda yang saat itu menguasai wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara memberikan wilayah kepada etnis Tionghoa sebagai tempat mendirikan pemukiman di sekitaran Hilir Sungai Karang Mumus, Samarinda.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Sumber: BPCB Kaltim Dirjen Kebudayaan Kemendikbud

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X