Secara fisik, Balontang terdiri atas tiga bagian yaitu bagian paling atas berupa patung manusia, tajau atau guci di bagian tengah dan bagian dasar yang berbeda di bawah tajau.
Konsep yang mendasari keberadaan patung balontang pada dasarnya sama untuk setiap kelompok suku Maanyan, dan Deah.
Pada dasarnya patung balontang didirikan lantaran alasan fungsi praktis sebagai pengikat kerbau, yang disembelih pada waktu pelaksanaan upacara kematian membatur, atau upacara hajatan dan selamatan bagi yang hidup.
Upacara adat berupa selamatan atau hajatan bagi yang masih hidup disebut mambuntang.
Dalam penggambaran atau penampilan untuk setiap jenis balontang tidak ada aturan tertentu yang mengikat.
Sebagian besar adalah ditentukan oleh kemauan dan kreativitas pembuatnya.
Sebagian dari kreativitas pembuat balontang tersebut dihubungkan dengan kebiasaan tokoh yang dibatur.
Sebagai contoh, ada balontang membatur dengan sikap tangan memegang pisau.
Hal ini menggambarkan bahwa arwah yang dibatur dahulu merupakan seorang tukang (pengatur sesaji) pada pelasanaan upacara adat.
(*)