kalbar-borneo

Peresmian Gedung Paroki Santa Maria Nyarumkop Singkawang, Wagub Krisantus Kurniawan Kenang Perjuangan Sang Ayah dan Puji Mgr Agustinus Agus

Minggu, 27 Juli 2025 | 08:22 WIB
Gedung Pastoran Paroki Santa Maria Nyarumkop Singkawang diresmikan oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Sabtu (26/7/2025). Prosesi pemberkatan dihadiri oleh Uskup Agung (Kalimantansatu.com/Dok. Adpim Pemprov Kalbar)

"Buang iri, dengki, sirik, dan lainnya. Kita berikan contoh kepada yang lain. Keanekaragaman Kalimantan Barat yang sangat kompleks, dengan berbagai agama, suku, dan budaya. Ini kita harus rawat dan tingkatkan toleransi antar umat beragama. Kita sadar, tak ada satu pun umat manusia yang bisa bercita-cita dilahirkan sebagai agama apa, suku apa, dan lain-lain. Ini harus kita maknai sebagai anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Pencipta”, ungkapnya.

Penampakan Gedung Pastoran Paroki Santa Maria Nyarumkop Singkawang. (Kalimantansatu.com/Dok. Adpim Pemprov Kalbar)

Singgung Insiden Pelarangan Pembangunan Gereja di Kubu Raya

Wagub Krisantus juga menyinggung insiden pelarangan pembangunan gereja Katolik di Desa Kapur Kubu Raya yang menurutnya dilakukan oleh oknum, bukan atas dasar suku atau agama.

Ia meminta umat Katolik untuk mempercayakan penyelesaian masalah ini kepada pemerintah.

“Kebetulan pulang dari Sintang, saya dapat kiriman pdf pelarangannya. Kebetulan pagi itu juga saya menjadi inspektur dalam HUT Kubu Raya, sehingga pas, saya minta Bupati untuk segera diselesaikan”, tuturnya.

Ia menegaskan bahwa meskipun ada SKB Tiga Menteri, Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945 adalah tata aturan tertinggi yang menjamin kebebasan beragama dan berkepercayaan.

"Tidak boleh melarang agama apapun untuk mendirikan rumah ibadah, sejauh sudah punya lahan, punya izin, silakan saja," tegasnya.

Baca Juga: Seskab Teddy Indra Wijaya dan Menteri Imipas Bahas Transformasi Layanan Publik yang Transparan di Sektor Imigrasi dan Pemasyarakatan

Pendidikan Karakter Pancasila

Krisantus juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan.

Hal ini penting untuk meminimalisir gesekan - hesekan yang ada, sehingga toleransi antarumat selalu terjaga.

“Saya pikir, sikap-sikap intoleransi ini salah satunya dari kurikulum pendidikan. Saya menilai luntur nilai-nilai kebangsaan. Saya ingin memberikan masukan kepada Bapak/Ibu, khususnya di Nyarumkop ini kan tempat belajar, harus diselipkan Pancasila, ayat-ayatnya, butir-butirnya, harus kita berikan pendidikan kembali kepada anak-anak kita," harapnya.

"Pancasila dirumuskan oleh ribuan suku, adat, dan budaya sebelum kemerdekaan Indonesia, dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah produk turunannya. Saya pikir tak ada negara di dunia ini memiliki keanekaragaman seperti negara Indonesia," imbuh Krisantus.

"Saya ingin kita merawat dan melestarikan perbedaan ini sebagai sebuah keindahan. Semua kita ini saudara. Saya ingin kita sebagai cinta sebagai kedamaian dan mengedepankan toleransi dalam beragama," timpalnya.

Halaman:

Tags

Terkini