opini

[KOLOM OPINI] Menguak Kembali Misteri Bailout BCA : Benarkah Ide Mengambil Alih 51% Saham Itu Sesat ?

Selasa, 19 Agustus 2025 | 09:25 WIB
Ilustrasi klik BCA, salah satu layanan perbankan dari BCA. (Kalimantansatu.com)

Jangan kira kritik ini hanya datang dari pengamat jalanan. Tokoh sekaliber Kwik Kian Gie (Menko Ekuin kala itu) menolak memberikan Surat Keterangan Lunas (SKL) kepada obligor BLBI, karena melihat adanya potensi kerugian negara dalam proses bailout dan restrukturisasi perbankan.

Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam audit rekap perbankan juga pernah menyinggung adanya indikasi kerugian negara dari skema obligasi rekap.

Artinya, keraguan soal “murahnya” harga jual BCA bukan isapan jempol belaka.

4. Kenapa Wajar Ditinjau Ulang?

Banyak yang langsung ketakutan: kalau isu ini dibuka, stabilitas perbankan bisa goyah. Padahal, sebenarnya tidak harus begitu.

Meninjau ulang bailout bukan berarti merampas bank yang kini sehat. Tapi lebih pada audit keadilan:

Apakah negara benar-benar dirugikan?

Apakah ada rekayasa atau konflik kepentingan dalam penjualan saham?

Bagaimana mekanisme koreksi bisa dilakukan tanpa mengganggu investor publik yang kini memegang saham BBCA?

Negara lain juga pernah melakukan audit serupa. Korea Selatan, misalnya, mengevaluasi penjualan aset bank pasca krisis Asia. Jadi, ini bukan hal tabu.

5. Kenapa Disebut Sesat?

Media yang menyebut ide pengambilalihan saham BCA sebagai sesat mungkin punya beberapa alasan:

Menjaga kepercayaan pasar (investor takut jika negara dianggap bisa “merampas” aset swasta).

Melindungi kepentingan pemegang saham pengendali saat ini.

Menghindari kegaduhan politik. Tapi, membungkam diskusi publik dengan label “sesat” jelas tidak sehat. Justru semakin membuat publik bertanya-tanya: ada apa sebenarnya?

Halaman:

Tags

Terkini