[KOLOM OPINI] Dialog Kenegaraan Presiden Prabowo: Simbol Persatuan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 4 Maret 2026 | 12:51 WIB
Pengamat Politik Agung Baskoro (Kalimantansatu.com/Dok. Agung Baskoro)
Pengamat Politik Agung Baskoro (Kalimantansatu.com/Dok. Agung Baskoro)

Opini Ditulis Oleh Agung Baskoro, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis

KALIMANTANSATU.COM - Pesan politik yang cukup kuat dihadirkan Presiden Prabowo Subianto dari Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa malam.

Ya, Prabowo mengundang Mantan Presiden dan Wakil Presiden serta para Ketua Partai Politik untuk berdialog. Membahas kondisi nasional hingga geopilitik global.

Dialog kenegaraan patut dimaknai menjadi pesan tentang persatuan. Pesan tentang komunikasi. Pesan tentang kualitas kebijakan negara.

Di tengah situasi geopolitik dan geostrategis global yang penuh ketidakpastian, simbol persatuan menjadi sangat penting. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik kawasan, krisis energi, dan ketegangan pangan masih membayangi banyak negara.

Dalam konteks seperti itu, Indonesia membutuhkan soliditas internal. Dialog antara Presiden dan para pemimpin terdahulu memperlihatkan bahwa kepentingan nasional berada di atas segalanya.

Baca Juga: [KOLOM OPINI] Simalakama AI Untuk Media Massa

Kita tahu bahwa setiap Presiden memiliki latar belakang dan dinamika politik yang berbeda. Namun ketika mereka duduk satu meja, yang dikedepankan adalah Indonesia. Bukan kepentingan kelompok. Bukan perbedaan masa lalu. Inilah makna simbolik yang kuat.

Negara hadir sebagai rumah besar bersama. Para tokoh bangsa berbicara dalam semangat yang sama, menjaga stabilitas dan masa depan rakyat.

Simbol ini penting untuk publik. Rakyat ingin melihat pemimpinnya rukun. Rakyat ingin melihat elite politik bisa berdialog. Apalagi di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi yang mudah dipicu oleh isu global. Pertemuan ini memberi ketenangan. Negara berjalan dengan arah yang jelas.

Selain itu, ini juga soal komunikasi dan relasi antarelit politik. Dialog kenegaraan ini menunjukkan bahwa Presiden membuka ruang sumbang saran. Ia tidak berjalan sendiri. Ia mendengar. Ia berdiskusi. Ia bertukar pikiran dengan para pendahulunya dan tokoh senior bangsa.

Baca Juga: [KOLOM OPINI] Paradoks Regulasi 2026 : Ancaman Serius bagi Legalitas BUJK (Badan Usaha Jasa Kontruksi) dan Serapan APBD Daerah

Langkah ini strategis. Komunikasi yang terjaga akan memperkecil kesalahpahaman. Relasi yang baik akan memperkuat legitimasi kebijakan. Publik tentu menangkap pesan bahwa keputusan pemerintah tidak diambil secara sepihak. Ada proses. Ada pertimbangan. Ada masukan dari pengalaman panjang para mantan pemimpin.

Dalam politik, persepsi sangat menentukan. Ketika elite terlihat kompak dan saling menghormati, publik cenderung lebih percaya. Kepercayaan adalah modal sosial yang mahal. Dialog ini menjadi investasi kepercayaan. Ia mengirim pesan bahwa stabilitas politik tetap terjaga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X