Apa itu Virus Ngorok atau Septicaemia Epizootica ? Peternak Harus Tahu, 431 Ekor Kerbau Mati Mendadak di Kabupaten OKI Sumatera Selatan, Ini Gejalanya

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Kamis, 18 April 2024 | 09:08 WIB
Ilustrasi peternak kerbau (Kalimantansatu.com/Pixabay ArtTower)
Ilustrasi peternak kerbau (Kalimantansatu.com/Pixabay ArtTower)

Penyakit SE ditemukan disebagian besar wilayah Indonesia, dan negara lainnya, kecuali Australia, Oceania, Amerika Utara, Afrika Selatan dan Jepang.

Kebanyakan wabah bersifat musiman, terutama pada musim hujan.

Secara sporadik penyakit juga ditemukan sepanjang tahun.

Selain itu ditambah faktor predisposisi seperti kelelahan, kedinginan, pengangkutan, anemia dan sebagainya.

Ekskreta hewan penderita (saliva, kemih dan feses) dapat mengandung bakteri Pasteurella.

Bakteri yang jatuh di tanah, apabila keadaan sesuai untuk pertumbuhan bakteri (lembab, hangat, teduh) akan tahan kurang dari satu minggu dan dapat menulari hewan-hewan yang digembalakan di tempat tersebut.

Tanah tidak lagi dianggap sebagai reservoir permanen untuk bakteri Pasteurella, ada kemungkinan bahwa insekta dan lintah dapat bertindak sebagai vektor.

Sifat Penyakit Virus Ngorok

Pada SE dikenal tiga bentuk yaitu, bentuk busung, pektoral dan intestinal.

a. Bentuk Busung

Ditemukan busung pada bagian kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang-kadang pada kaki muka.

Tidak jarang pula terjadi pada bagian alat kelamin dan anus.

Derajat kematian bentuk ini tinggi sampai mencapai 90% dan berlangsung cepat (hanya 3 hari, kadang-kadang sampai 1 minggu).

Sebelum mati, terutama pada kerbau terjadi gangguan pernapasan ditandai dengan sesak nafas, suara ngorok merintih dan gigi gemeretak.

b. Bentuk Pektoral

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Sumber: Isikhnas

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X