reginternasional

Menelisik Kerugian Negara Gara-gara Kasus Penyelundupan. Terbaru, Menko Polkam Budi Gunawan Gagalkan Barang Ilegal yang Nilainya Rp480 Miliar

Kamis, 6 Februari 2025 | 21:28 WIB
Potret Menko Polkam RI Budi Gunawan bersama Menkeu RI Sri Mulyani dalam pengungkapan kasus penyelundupan barang impor dalam konferensi pers di Surabaya, Jawa Timur, pada Rabu, 5 Februari 2025. (Kalimantansatu.com/Dok. IG @bgunawan_id)

Kasus ketiga yang diungkap Bareskrim Polri, yaitu penyelundupan barang elektronik yang berlokasi di sebuah komplek pergudangan di Cikupa, Tangerang, Banten.

Assegaf mengklaim, kasus penyelundupan di Tangerang itu dilakukan oleh PT GIA.

Baca Juga: Geliat Amerika Serikat Relokasi Warga Gaza Tuai Kontroversi: 3 Negara Ini Tolak Gagasan Donald Trump-Netanyahu, dari China hingga Indonesia

Dalam proses penjualannya, PT GIA menyewa tempat pada PT II sebagai tempat produksi dan perdagangan elektronik yang tidak memiliki standar sertifikasi SNI.

"Kemudian, dilakukan pengecekan dan kami bisa mendapatkan barang bukti berupa smart TV, digital TV, mesin cuci, setrika listrik, LED TV, speaker, TV rekondisi, remot TV, dan lain-lain," sebut Assegaf.

"PT GIA menawarkan produk melalui media daring atau e-commerce seperti Shopee dan TikTok," tegasnya.

Barang bukti yang diamankan sebanyak 2.406 elektronik tanpa SNI.

Penjualan dilakukan di media sosial dengan total nilai barang Rp18 miliar dan mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp5,617 miliar.

Penyelundupan Suku Cadang Kendaraan Palsu di Jakarta

Dalam kesempatan yang sama, kasus keempat yang berhasil diungkap Bareskrim Polri yakni penyelundupan suku cadang kendaraan palsu di Komplek Karanganyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat, dan sebuah percetakan di Kalideres, Jakarta Barat.

Baca Juga: 100 Hari Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo Subianto Ingin Pemerintahan yang Bersih dari Penyelewengan dan Korupsi: Kami Tahu Ada Perlawanan

Assegaf menuturkan, modus dalam kasus ini adalah seorang warga negara China berinisial VV (30) mendatangi toko SA untuk menawari barang-barang suku cadang sesuai dengan daftar yang ia tawarkan.

Kemudian, pemesan membuat kesepakatan dan dibuat surat pesanan. Dikomunikasikan pula terkait teknis pembayaran maupun pengiriman.

"Pembayaran dibayar tunai langsung di tempat. Kemudian, toko SA hanya tahu dia barang sampai ke gudang," terang Assegaf.

"Mereka tidak tahu proses pengiriman dari China ke Indonesia, tapi barang tiba-tiba sudah sampai di gudang," tandasnya.

Halaman:

Tags

Terkini