reginternasional

Negosiasi Perdamaian Rusia-Ukraina Mandek, Gara-gara Tuntutan Moskwa Dinilai Tidak Masuk Akal

Sabtu, 17 Mei 2025 | 21:23 WIB
Bendera negara Rusia dan Ukraina. (Kalimantansatu.com/Dok. Freepik)

KALIMANTANSATU.COM - Upaya damai antara Rusia dan Ukraina kembali digelar melalui pertemuan langsung di Istanbul, Turkiye, pada Jumat 16 Mei 2025.

Sayangnya, diskusi yang hanya berlangsung selama dua jam itu tidak menghasilkan kemajuan berarti.

Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua belah pihak sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, atau lebih dari tiga tahun sejak komunikasi langsung terputus.

Menurut laporan dari Reuters, jalannya negosiasi sudah terlihat sulit sejak awal.

Perbedaan pandangan mencuat tajam dan memperkecil kemungkinan tercapainya kesepakatan konkret.

Baca Juga: Gelar RUPST, BSI Tetapkan Dividen Total Rp1,05 Triliun Sekaligus Angkat Anggoro Eko Cahyo Sebagai Dirut

“Rusia mengajukan tuntutan yang jauh melampaui apa pun yang pernah dibahas sebelumnya,” ujar sumber tersebut sebagaimana dikutip pada Sabtu 17 Mei 2025.

Dilaporkan juga menyebut bahwa syarat-syarat yang diajukan Moskwa dianggap tidak masuk akal dan tidak membantu proses negosiasi.

Harapan dunia untuk melihat perdamaian juga meredup setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya ke Timur Tengah sehari sebelumnya.

Trump menegaskan pentingnya keterlibatan langsung dirinya dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menekankan bahwa Kyiv menginginkan penghentian serangan tanpa syarat.

“Jika Rusia menolak gencatan senjata, Moskwa harus menghadapi sanksi baru yang kuat, khususnya di sektor energi dan perbankan,” kata Zelensky.

Baca Juga: Ingar Soal Pengerahan TNI di Kantor Kejaksaan, Istana Kepresidenan: Ini Biasa Saja

Sementara itu, Rusia mengklaim tetap membuka diri terhadap solusi diplomatik dan menyatakan kesiapannya untuk membahas gencatan senjata.

Namun demikian, pihaknya juga menuding Ukraina menggunakan jeda konflik untuk memperkuat militernya dengan dukungan negara-negara Barat.

Halaman:

Tags

Terkini