“Wilayah selatan Jawa menjadi pusat keterdamparan hiu paus, terutama pada periode puncaknya di kuartal empat setiap tahun. Pada periode ini, terjadi fenomena oseanografi berupa upwelling yang ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas perairan, sehingga menarik hiu paus untuk mencari makan,” kata Iqbal.
Namun di sisi lain, lanjut Iqbal, perubahan iklim dapat menggeser distribusi mangsa hiu paus, memicu cuaca tidak menentu, angin kencang, dan gelombang tinggi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan hiu paus.
“Karena itu, informasi mengenai waktu dan lokasi yang kami identifikasi dalam studi ini dapat menjadi panduan bagi pemerintah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons kejadian keterdamparan secara lebih efektif.” bebernya.
Menurut Iqbal, selain faktor alamiah, ancaman antropogenik seperti by-catch, tertabrak kapal, dan pencemaran perairan turut menjadi penyebab kejadian terdampar pada hiu paus.
Salah satunya adalah kejadian hiu paus yang terdampar di Kebumen telah terbukti mengalami keracunan logam berat dan senyawa racun akibat pencemaran limbah.
Dwi Suprapti menambahkan dari hasil nekropsi yang dilakukan di Kebumen tersebut, sangat memungkinkan juga terjadi pada keterdamparan hiu paus di Purworejo ini, mengingat secara perairan darat maupun laut berbatasan langsung.
Namun, untuk menguatkan dugaan adanya indikasi keracunan pada hiu paus terdampar di Pantai Pasir Puncu-Purworejo ini perlu dilakukan kajian lebih lanjut agar kedepan kejadian serupa dapat dimitigasi.
(*)