Sampai Singgung Mazhab Serakahnomics dan Konsep Indonesia Incorporated, Presiden Prabowo Subianto: yang Besar Harus Berperan, yang Miskin Diberdayakan

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Jumat, 15 Agustus 2025 | 21:38 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat Pidato Kenegaraan di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat (15/8/2025). (Kalimantansatu.com/Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto)
Presiden Prabowo Subianto saat Pidato Kenegaraan di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat (15/8/2025). (Kalimantansatu.com/Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto)

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengapresiasi sebagian besar dari pengusaha besar di Indonesia yang mau diajak ikut membangun Indonesia bersama sehingga yang besar berperan dan yang miskin diberdayakan.

“Tidak semua pengusaha besar itu ikut dalam mazhab serakahnomics. Justru sebagian besar kita ajak membangun Indonesia bersama,” ujar Prabowo dalam Pidato Kenegaraan di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat (15/8/2025).

Praktik yang ia sebut sebagai serakahnomics yakni perilaku mencari keuntungan sebesar-besarnya di atas penderitaan rakyat.

Prabowo pun mengajak seluruh pelaku usaha untuk menjadi bagian dari konsep “Indonesia Incorporated,” yakni pembangunan ekonomi yang melibatkan semua pemangku kepentingan sebagai satu kesatuan tim nasional.

Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Klaim Selamatkan Rp300 Triliun Dana APBN 2025 dari Risiko Korupsi, Dialihkan ke Hal Produktif dan Langsung Dirasakan Rakyat

“Yang kuat, yang besar punya peranan, yang menengah punya peranan, yang kecil punya peranan, kita bantu. Yang miskin kita berdayakan. Itu namanya Indonesia Incorporated,” katanya.

Menurut Prabowo, pemberdayaan masyarakat miskin akan berdampak pada daya beli yang pada akhirnya menggerakkan seluruh mata rantai ekonomi, termasuk industri besar.

“Kita bisa hilangkan kemiskinan kalau orang yang di bawah garis kemiskinan punya uang, punya penghasilan, mereka punya daya beli. Mereka akan beli barang-barang dari pabrik-pabrik yang dimiliki perusahaan besar. Itu yang dinamakan ekonomi mata rantai yang saling memperkuat, bukan saling menghancurkan,” ucapnya.

(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X