Salah Desain Sejak Awal ! Politisi PDIP Harris Turino Sebut Kereta Cepat Jakarta–Bandung itu 'Bayi Sungsang'

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 22 Oktober 2025 | 07:04 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino (Kalimantansatu.com/Dok. Promedia Teknologi Indonesia)
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino (Kalimantansatu.com/Dok. Promedia Teknologi Indonesia)

KALIMANTANSATU.COM — Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino menilai proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCIC) sejak awal dirancang dengan perhitungan keliru, sehingga kini berubah menjadi beban fiskal bagi negara.

Politisi PDI Perjuangan itu menyebut proyek yang menelan biaya hingga US$7,1 miliar tersebut sebagai “bayi sungsang” — lahir dengan ambisi besar, tapi dengan desain yang salah arah.

“Kereta cepat itu bayi sungsang. Jaraknya cuma 200 kilometer, biayanya besar, dan lokasi stasiunnya tidak efisien,” kata Harris dalam wawancara bersama tim Jaringan Promedia di kantor parlemen, Jakarta, Selasa (14/10/2025).

Baca Juga: Harris Turino : 'Negara Harus Hadir, Tapi Tak Menelan Pasar, Itulah Ekonomi Pancasila'

Menurut Harris, ide awal proyek ini adalah mempercepat mobilitas dan efisiensi transportasi antarkota.

Namun, konsepnya berubah di tengah jalan.

Peringatan Megawati kepada Jokowi

Harris mengingatkan, jauh sebelum proyek ini berjalan, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebenarnya sudah memberi peringatan kepada Presiden Joko Widodo agar berhati-hati.

“Bu Mega itu sudah tiga kali mengingatkan Pak Jokowi,” ujar Harris. 

“Pertama, soal kemampuan teknis karena pengalaman Tiongkok di bidang kereta cepat masih relatif baru. Kedua, soal kelayakan finansial proyeknya. Dan ketiga, soal potensi bencana alam di jalur yang dilalui.”

Menurut Harris, peringatan itu kini terbukti benar. “Yang dikhawatirkan Bu Mega sekarang terjadi: proyeknya mahal, penumpangnya sedikit, dan bebannya berat bagi negara,” ujarnya.

Baca Juga: Utang Whoosh Rp116 Triliun Bikin 'Pusing' ! Menkeu Purbaya Ogah Bayar Utang Pakai APBN, Istana Minta Cari Jalan Keluar Tanpa Bebani Keuangan Negara

Menurut Harris, peringatan itu kini terbukti benar. “Yang dikhawatirkan Bu Mega sekarang terjadi: 

proyeknya mahal, penumpangnya sedikit, dan bebannya berat bagi negara,” ujarnya.

Pemilihan rute Halim–Tegalluar dianggap tidak strategis karena jauh dari pusat bisnis dan kawasan permukiman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X