KALIMANTANSATU.COM – Danantara bergerak cepat membedah sengkarut definisi bisnis di tubuh asuransi BUMN (Badan Usaha Milik Negara).
Fokus utama tertuju pada pemisahan saklek antara portofolio General Insurance dan Credit Insurance (Penjaminan) yang selama ini kerap tumpang tindih.
Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria bilang, langkah ini krusial untuk menyelamatkan mandat Askrindo dan Jamkrindo sebagai tulang punggung penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Dia mengatakan kajian mendalam tengah dilakukan untuk memastikan lini bisnis penjaminan benar-benar "murni" dan terpisah dari risiko asuransi kerugian biasa.
Baca Juga: Optimisme Ekonomi Indonesia Menguat di Akhir 2025, Kepala Ekonom Bank Mandiri Beberkan Proyeksinya
"Kita sedang memilah, mana yang murni general insurance dan mana yang murni guarantee. Tidak boleh lagi ada area abu-abu yang membingungkan secara tata kelola," kata Dony dalam Investor Daily Roundtable dengan tema Danantara: Menggerakkan Raksasa, Menyalakan Mesin Ekonomi Indonesia, belum lama ini.
Keseriusan ini dibuktikan dengan intensitas pertemuan tingkat tinggi antara Danantara dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tercatat, dua kali pertemuan digelar dalam sebulan terakhir khusus untuk memetakan risiko dan regulasi pemisahan ini.
Sementara menurut OJK, pemisahan ruang ini untuk membuat pelaku industri itu kuat dari segi permodalan dan penerapan manajemen risiko bisa berjalan dengan baik.
“Jika semuanya terpenuhi, baik itu permodalan dan manajemen risikonya, bisa menjadi jaminan untuk pertumbuhan ekonomi di masa depan akan lebih sustain,” ucap Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono beberapa waktu lalu.
Baca Juga: UKP Mendengar : Wakil Ketua ICCN Raffi Ahmad Kunjungi Subang, Bawa Harapan Baru bagi Ekraf Lokal
Dengan strategi ini, Danantara ingin memastikan setiap entitas memiliki spesialisasi yang tajam: Asuransi Umum fokus pada proteksi kerugian aset, sementara Holding Penjaminan fokus menjadi benteng risiko kredit nasional.
Di waktu dan tempat terpisah, Pengamat Asuransi Wahju Rohmanti menilai Indonesia Financial Group (IFG) tepat sebagai holding asuransi ke depannya, karena memiliki tujuan jelas yaitu memperkuat perusahaan-perusahaan asuransi BUMN melalui pengelolaan yang terpusat.
“Tentu implementasinya adalah agar mereka (perusahaan asuransi dan reasuransi BUMN) beroperasi efisien dan sehat secara keuangan,” ujar Wahju beberapa waktu lalu.
Artikel Terkait
Anak Perusahaan DAAZ Tandatangani Framework Agreement Dengan Antam dan HYD Investment Limited untuk Pengembangan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto Imbau Waspada Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak, Akui Sejumlah Tantangan Subsektor Peternakan Nasional
OJK Limpahkan Berkas Kasus Pinjaman Daring PT Crowde Membangun Bangsa ke JPU, Ada Dugaan Pencatatan Palsu Dana Lender Kepada 62 Mitra Fiktif
Apa itu Parabolic SAR ? Dianggap Peta Harta Karun bagi Trader Saham, Ketahui Manfaat dan Cara Kerjanya
Menyeluruh ! Intip 8 Rencana Aksi Cepat Reformasi Pasar Modal Indonesia yang Bakal Dilakukan oleh OJK agar Kredibel dan Investable
Perkuat Integritas Pasar Modal Indonesia ! Tak Hanya Soal Free Float, Pemerintah Indonesia Tegaskan Tidak Ada Toleransi Praktik Manipulasi Harga Saham
UKP Mendengar : Wakil Ketua ICCN Raffi Ahmad Kunjungi Subang, Bawa Harapan Baru bagi Ekraf Lokal
Alfamart Tambah Investasi Saham Rp35 M di PT Lancar Wiguna Sejahtera, Manajemen Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) Ungkap Tujuannya
Ada Rencana Buyback Saham IMPC Rp500 M, Begini Penjelasan Manajemen Impack Pratama Industri
Optimisme Ekonomi Indonesia Menguat di Akhir 2025, Kepala Ekonom Bank Mandiri Beberkan Proyeksinya