Indonesia Harus Naik Kelas ! Wadirut MIND ID Dany Amrul Ichdan Beberkan Potensi Tambang hingga Sektor Lain yang Perlu Dioptimalkan

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Rabu, 11 Februari 2026 | 15:54 WIB
Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID) Dany Amrul Ichdan mengatakan Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, sudah saatnya “naik kelas” dengan mengejar pertumbuhan 8%. (Kalimantansatu.com/Dok. MIND ID)
Wakil Direktur Utama (Wadirut) Mining Industry Indonesia (MIND ID) Dany Amrul Ichdan mengatakan Indonesia harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, sudah saatnya “naik kelas” dengan mengejar pertumbuhan 8%. (Kalimantansatu.com/Dok. MIND ID)

Kondisi ini mencerminkan masih dominannya ekspor bahan mentah dan lemahnya hilirisasi industri.

"Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri," ujar Dany.

Dany menjelaskan, selain cadangan mineral strategis, Indonesia juga memiliki peluang besar dari secondary resources dan limbah industri tambang.

“Bukan hanya tambang potensi juga ada di industri lain seperti perikanan dan lain-lain, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal," jelasnya.

Di sisi lain, monetisasi sumber daya sekunder ini dinilai dapat memperpanjang umur ekonomi sumber daya alam sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Baca Juga: MIND ID Mediapreneur Talks Promedia di Kota Medan 2025: Bincang Hangat Seputar Media, Publisher Right, hingga Tren Iklan Digital

Penguatan Riset Jadi Kunci

Dany menambahkan, seluruh potensi tersebut harus diorkestrasi melalui kebijakan pemerintah yang berpihak pada peningkatan kapabilitas industri nasional. Hal itu mencakup penguasaan teknologi, penguatan riset dan pengembangan (R&D), serta penciptaan iklim regulasi yang mendukung industri dalam negeri.

“Saat ini, anggaran riset Indonesia yang masih sekitar 0,3% dari PDB dinilai belum memadai untuk mendorong Indonesia bertransformasi dari sekadar pengadopsi teknologi menjadi pencipta inovasi,” sebutnya.

Kerangka strategi dirangkum Dany dalam konsep DAI, yakni Distinctive, Adaptive, dan Inclusive.

Distinctive yaitu mendorong strategi industrialisasi berbasis keunggulan nasional, mulai dari bioenergi hingga ekonomi halal, serta mendorong diferensiasi pasar domestik.

Kemudian, Adaptive yaitu merespons dinamika global seperti CBAM, geopolitik multipolar, integrasi AI dalam industri, serta transisi energi hijau.

Adapun, Inclusive yaitu membangun ekosistem industri yang melibatkan UMKM, startup teknologi, BUMN, dan perguruan tinggi dalam satu rantai nilai yang koheren.

(*)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X