Era Baru Perdagangan Dunia, Fakhrul Fulvian Nilai Indonesia Punya Modal Kuat Hadapi Dinamika Global

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Sabtu, 28 Februari 2026 | 17:25 WIB
Di depan kelompok pengusaha AS, Prabowo mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang tidak hanya melimpah tetapi juga strategis. (Kalimantansatu.com/Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto)
Di depan kelompok pengusaha AS, Prabowo mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang tidak hanya melimpah tetapi juga strategis. (Kalimantansatu.com/Dok. Tim Media Presiden Prabowo Subianto)

“Ini penting. Kita tidak boleh membaca perjanjian sebagai final outcome sebelum arsitektur hukumnya selesai,” lanjut dia.

Bagi Fakhrul, perjanjian perdagangan hanyalah instrumen taktis. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, Indonesia tidak boleh sekadar bereaksi terhadap perubahan eksternal.

“Perjanjian perdagangan adalah instrumen taktis. Fondasi pembangunan tetap harus berbasis pada daya saing struktural, diversifikasi pasar, dan ketahanan domestik," katanya.

Baca Juga: Menlu Sugiono Tegaskan Yordania Berkomitmen Dukung Pengiriman Pasukan Indonesia ke Gaza Palestina

Ia menyebut lima agenda kebijakan yang krusial untuk dijalankan pemerintah diversifikasi pasar jangka panjang, upgrade industri berbasis nilai tambah dan standar global, penguatan instrumen trade defense dan monitoring, konsistensi kedaulatan regulasi berbasis hukum domestik yang kuat, serta strategi perdagangan yang anti-fragile dan adaptif terhadap risiko hukum global.

Kemandirian Jadi Jawaban di Tengah Ketidakpastian

Dalam konteks ini, arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto soal kemandirian dan swasembada, mulai dari pangan hingga energi, menjadi relevan.

Upaya memperkuat produksi pangan domestik, membangun hilirisasi industri, serta mendorong kedaulatan energi bukan semata agenda politik dalam negeri.

Di tengah gejolak global, langkah tersebut bisa menjadi bantalan ekonomi yang menjaga stabilitas ketika pasar ekspor terguncang.

Baca Juga: Dalam Semangat Ramadan 2026, Indonesia dan Yordania Perkuat Koordinasi Isu Perdamaian Palestina

Fakhrul menilai, stabilitas justru menjadi aset strategis di era pembalikan kebijakan global seperti sekarang.

“Negara yang kuat bukan yang paling agresif merespons perubahan. Negara yang kuat adalah yang memiliki arah yang konsisten,” Fakhrul menambahkan.

Kedaulatan ekonomi, lanjutnya, bukan berarti proteksionisme yang menutup diri dari dunia. Sebaliknya, itu adalah kapasitas menentukan arah pembangunan sendiri tanpa kehilangan kredibilitas internasional.

Dengan basis domestik yang kuat, baik dari sisi pangan, energi, maupun industri bernilai tambah, Indonesia memiliki ruang lebih luas untuk bermanuver dalam perjanjian dagang apa pun. Ketahanan internal menjadi tameng ketika dinamika global bergerak tak terduga.

“Pada akhirnya, perdagangan bukan hanya soal tarif. Ia adalah soal arah pembangunan. Dan di dunia yang reversibel, arah yang jelas adalah bentuk tertinggi dari kedaulatan,” pungkas Fakhrul.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X