ekonomi-bisnis

Harris Turino : 'Negara Harus Hadir, Tapi Tak Menelan Pasar, Itulah Ekonomi Pancasila'

Jumat, 17 Oktober 2025 | 12:22 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino (Kalimantansatu.com/Dok. Promedia Teknologi Indonesia)

Bagaimana dengan kondisi kredit dan daya beli masyarakat saat ini?

Kredit yang sudah disetujui tapi belum disalurkan (undisbursed loan) mencapai Rp2.375 triliun. Artinya, banyak proyek sudah komit tapi belum jalan. 

Masyarakat bawah juga masih bergantung pada bantuan pemerintah. Sekitar 7 persen penduduk hidup dari program bansos. Tanpa bantuan itu, kemiskinan ekstrem bisa naik lagi.

Baca Juga: Prabowo Subianto Anggap Program Desa Nelayan Bisa Naikkan Pendapatan 100 Persen, Pemerintah Bangun Dermaga dan Siapkan Cold Storage

Jadi, ekonomi kita memang tumbuh, tapi masih rapuh. Pertumbuhan tidak boleh hanya ditopang belanja negara, melainkan juga daya beli dan sektor produktif rakyat.

Anda cukup keras mengkritik proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Mengapa?

Sejak awal proyek itu memang salah desain. Saya sudah bilang di rapat: ini bayi sungsang. Jaraknya hanya sekitar 200 kilometer, tapi biayanya lebih dari US$7 miliar. 

Pemilihan stasiunnya pun keliru — Halim dan Tegalluar terlalu jauh dari pusat aktivitas ekonomi dan bisnis Jakarta maupun Bandung. Akibatnya, potensi penumpang tidak optimal dan efisiensi transportasi yang dijanjikan tidak tercapai.

Berdasarkan catatan yang saya miliki, sebenarnya Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, sudah tiga kali mengingatkan Presiden Jokowi terkait proyek ini. 

Pertama, soal aspek teknis, mengingat pengalaman Tiongkok dalam pembangunan kereta cepat masih relatif baru dibandingkan Jepang atau Eropa. 

Kedua, aspek finansial, karena sejak awal sudah muncul keraguan atas kelayakan proyek ini secara ekonomi. 

Dan ketiga, aspek risiko bencana alam, sebab jalur yang dilalui proyek KCJB melewati kawasan rawan gempa dan tanah labil.

Artinya, peringatan itu sebenarnya sudah muncul sejak awal?

Betul. Dan faktanya, kekhawatiran itu kini terbukti. Target penumpang 40 ribu per hari tidak tercapai — realisasinya hanya sekitar 16 ribu orang. Tiket yang semula Rp400 ribu pun harus diturunkan menjadi Rp250 ribu demi menarik minat masyarakat.

Akibatnya, kerugian operasional mencapai Rp10 miliar per hari. Perusahaan pelat merah seperti PT KAI, yang semula dalam kondisi sehat, kini ikut menanggung beban keuangan proyek tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini