KALIMANTANSATU.COM - Pemerintah Republik Indonesia (RI) memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga di tengah ancaman potensi musim kemarau 2026.
Hal ini lantaran didukung kondisi cadangan beras yang kuat serta langkah mitigasi terkoordinasi lintas sektor.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, kesiapan pemerintah menghadapi dinamika iklim berada dalam kondisi terkendali, seiring dengan penguatan stok nasional.
Amran bilang, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini telah mencapai 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
“Kalau dampak ini, ada El Nino, itu nggak masalah. Kenapa nggak masalah? Karena stok kita sudah 5 juta ton, tertinggi selama Republik ini merdeka,” kata Mentan Amran dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Penguatan ketahanan pangan tersebut ditopang sinergi lintas sektor yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen Sumber Daya Air (SDA), serta Kementerian Pertanian melalui Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) dan Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP).
Dalam menjaga produktivitas, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk mendukung program irigasi dan penyediaan benih unggul sebagai langkah strategis menghadapi musim kemarau.
Dari total anggaran tersebut, lebih dari Rp3 triliun difokuskan untuk penguatan infrastruktur irigasi, termasuk pompanisasi dan optimalisasi sumber air, khususnya di wilayah rawan kekeringan.
Bukan Kejadian Tahunan
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan, secara umum kondisi iklim Indonesia masih sangat mendukung sektor pertanian, meskipun potensi kekeringan tetap harus diantisipasi.
Fenomena kekeringan akibat El Nino disebut bukan kejadian tahunan, melainkan siklus yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019.
“Kondisi iklim Indonesia sebenarnya sangat baik untuk pertanian. Kekeringan tidak terjadi setiap saat dan kita sudah cukup familiar dalam menghadapinya,” ujar Ardhasena, Senin sore.