Ardhasena menjelaskan dinamika iklim nasional dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni fenomena El Nino dan La Nina di Samudra Pasifik, serta pengaruh Samudra Hindia yang berdampak pada wilayah barat Indonesia.
Untuk tahun 2026, potensi El Nino diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat, dengan probabilitas sekitar 50–60 persen.
“Kecenderungannya, semakin kuat El Nino maka Indonesia akan semakin kering. Namun kondisi ini tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah,” katanya.
BMKG juga memproyeksikan musim kemarau akan datang lebih awal dari biasanya, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Juni hingga September. Sejumlah wilayah bahkan telah mulai memasuki fase kering.
Mengantisipasi periode kritis tersebut, Ditjen SDA Kementerian PUPR menyiapkan langkah antisipatif berbasis koordinasi lintas kementerian, dengan fokus utama pada periode Juli hingga September.
“Melalui koordinasi lintas kementerian, kami menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi potensi kekeringan, khususnya pada periode kritis pertengahan tahun,” ujarnya.
Dari sisi sarana produksi, Ditjen PSP Kementerian Pertanian menekankan pentingnya optimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang telah tersebar di berbagai daerah.
“Secara umum ketersediaan prasarana dan alsintan cukup, namun pemanfaatannya harus dioptimalkan. Masih banyak yang belum digunakan secara maksimal di tingkat daerah,” katanya.
Ia menegaskan bahwa alsintan merupakan aset negara yang harus dimanfaatkan secara kolektif.
“Ini bukan milik satu kelompok, tetapi milik negara. Harus digunakan bersama untuk mendorong peningkatan produksi,” katanya.
Baca Juga: IFG Apresiasi Kinerja Jamkrindo Karena Dorong UMKM Naik Kelas secara Berkelanjutan
Dorong Peningkatan Produksi
Sementara itu, Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementerian Pertanian Dr. Hermanto menegaskan, strategi menghadapi kemarau tidak hanya berfokus pada mitigasi, tetapi juga tetap mendorong peningkatan produksi sebagai bagian dari agenda swasembada pangan berkelanjutan.
“Kita tidak hanya bicara mitigasi, tetapi bagaimana tetap memproduksi di tengah potensi kemarau panjang,” ujar Hermanto.
Artikel Terkait
Tak Hanya Australia ! India dan Filipina Minat Impor Pupuk Urea dari Indonesia, Menko Airlangga Hartarto Ungkap Hal Ini
Jadi Bukti Nyata Hilirisasi ! Anggap Strategi Pemerintah Buahkan Hasil Investasi Rp498 Triliun di Triwulan I 2026, Ini Analisis NEXT Indonesia Center
Membuka 706 Ribu Lapangan Kerja ! Investasi yang Masuk ke Indonesia Tembus Rp498,8 T di Triwulan I 2026
Tumbuh 8,2% ! Realisasi Investasi Hilirisasi Tembus Rp147,5 T di Triwulan I 2026, Rosal Roeslani Beberkan Rinciannya
Asuransi Bukan Investasi Gaes ! Ini yang Harus Kamu Dipahami Sebelum Membeli Polis
IFG Apresiasi Kinerja Jamkrindo Karena Dorong UMKM Naik Kelas secara Berkelanjutan
ICCN Bareng Intel, IGVI dan AXIOO Class Program Gelar Pelatihan Eksklusif untuk 158 Guru Vokasi, Sejumlah Skill Ini Dikupas Habis !
Kayong Utara Tunjukkan Tren Positif Pertumbuhan Ekonomi, PSN di Pulau Penebang jadi Motor Penggerak Perekonomian
Akselerasi Hilirisasi Perkebunan Jadi Strategi Besar Pemerintah Indonesia Untuk Kemandirian Nasional dan Nilai Tambah Komoditas Domestik
Cadangan Beras Indonesia Tembus 5 Juta Ton ! Tertinggi Dalam Sejarah, Begini Penegasan Mentan Amran Sulaiman