Dari sisi nilai investasi, subsektor Industri Logam Dasar menjadi kontributor terbesar dengan investasi mencapai sekitar Rp218,04 triliun dari 24 perusahaan.
Posisi berikutnya ditempati Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebesar Rp81,22 triliun, disusul Industri Barang Galian Bukan Logam sebesar Rp12,10 triliun.
Besarnya investasi pada subsektor logam dasar menunjukkan adanya penguatan sektor hulu manufaktur yang strategis, termasuk potensi hilirisasi mineral dan pengembangan rantai pasok industri nasional.
Sementara itu, dari sisi potensi penciptaan lapangan kerja, subsektor Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki menonjol dengan rencana penyerapan 37.350 tenaga kerja, diikuti Industri Logam Dasar sebanyak 25.592 orang, serta Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia sebanyak 9.065 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa selain padat modal, beberapa subsektor juga memiliki karakter padat karya yang signifikan.
Secara umum, data Triwulan I 2026 menunjukkan aktivitas pembangunan fasilitas produksi masih kuat dan tersebar di berbagai subsektor strategis, terutama makanan-minuman, kimia, logam dasar, serta sektor padat karya. Kondisi ini mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek permintaan domestik maupun ekspor, sekaligus menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan manufaktur nasional pada tahun 2026.
Kebijakan Pro-Industri
Menurut Febri, peningkatan kontribusi terhadap PDB, serapan tenaga kerja, dan investasi tersebut tidak terlepas dari kebijakan Menteri Perindustrian yang pro-industri, seperti reformasi kebijakan TKDN, penerapan kebijakan non-tariff barrier, pembangunan kawasan industri, serta perlindungan industri nasional dari gempuran produk impor.
Ia menambahkan, kebijakan yang mendukung penguatan sektor industri juga berjalan berkat arahan Prabowo Subianto serta sinergi yang erat antar kementerian dan lembaga.
Kemenperin juga menilai bahwa tingginya investasi yang masuk ke sektor manufaktur akan semakin memperkuat kapasitas produksi nasional, mendorong ekspor bernilai tambah, serta memperluas penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Pemerintah saat ini terus mengarahkan investasi ke sektor-sektor prioritas seperti industri makanan dan minuman, kimia, farmasi, otomotif, elektronika, tekstil, hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam.
Lebih lanjut, Febri menambahkan bahwa ketahanan sektor manufaktur Indonesia terlihat jelas ketika banyak negara menghadapi tekanan rantai pasok global, fluktuasi harga energi, dan tensi geopolitik.
“Di tengah situasi global yang tidak menentu, industri nasional tetap mampu tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi yang sangat kuat dan daya saing industri Indonesia terus meningkat,” katanya.
Kemenperin optimistis tren positif ini akan berlanjut seiring implementasi kebijakan hilirisasi industri, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, serta perluasan pasar ekspor nontradisional.