Bahkan pada Triwulan I 2024, kontribusi sempat menyentuh 19,28%, yang menjadi salah satu level tertinggi selama periode pengamatan.
Selanjutnya pada tahun 2025, kontribusi sektor manufaktur tetap terjaga pada level tinggi.
Setelah berada di 18,67% pada Triwulan II 2025, kontribusi meningkat menjadi 19,15% pada Triwulan III 2025 dan kembali naik ke 19,20% pada Triwulan IV 2025.
Secara keseluruhan, jika dibandingkan antara Triwulan II 2022 (17,92%) dan Triwulan IV 2025 (19,20%), maka kontribusi PDB industri manufaktur meningkat sekitar 1,28 poin persentase.
Hal ini menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sektor manufaktur semakin memperkuat posisinya sebagai kontributor terbesar dan motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Investasi dan tenaga kerja meningkat
Berdasarkan data Sakernas 2015–Agustus 2025, tenaga kerja pada industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren meningkat secara konsisten.
Jumlah tenaga kerja naik dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta orang pada 2019. Meski sempat terdampak pandemi pada 2021 hingga turun ke 17,44 juta orang, sektor ini kembali pulih pada tahun-tahun berikutnya.
Pada periode pemulihan, penyerapan tenaga kerja terus bertambah dari 18,65 juta orang pada 2022 menjadi 20,26 juta orang pada Agustus 2025, sekaligus menjadi level tertinggi selama periode pengamatan.
Secara keseluruhan, hal ini menunjukkan bahwa industri pengolahan nonmigas tetap berperan penting sebagai penyedia lapangan kerja dan memiliki ketahanan yang kuat dalam mendukung perekonomian nasional.
Berdasarkan data SIINas per 23 April 2026, pada Triwulan I Tahun 2026 tercatat terdapat 633 perusahaan industri yang melaporkan pembangunan fasilitas produksi dan belum pernah melaporkan produksi sebelumnya.
Total rencana penyerapan tenaga kerja dari pembangunan fasilitas tersebut mencapai 219.684 orang, dengan total nilai investasi sebesar Rp418,62 triliun.
Secara jumlah perusahaan, pembangunan fasilitas produksi paling banyak dilaporkan oleh subsektor Industri Pengolahan Tembakau sebanyak 72 perusahaan, diikuti Industri Minuman sebanyak 67 perusahaan, serta Industri Makanan sebanyak 60 perusahaan. Selain itu, subsektor Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia juga cukup dominan dengan 49 perusahaan yang sedang membangun fasilitas baru.
Artikel Terkait
Kini SMP Negeri 3 Kunduran Blora Lebih Layak dan Nyaman Berkat Program Revitalisasi Sekolah dari Pemerintah
Revitalisasi SMPN 3 Jiken oleh Pemerintah era Prabowo Subianto Membuka Lapangan Kerja Bagi Warga dan Hidupkan Ekonomi Keluarga
Jangan Sampai Jadi Korban ! Pemerintah Imbau Masyarakat Jangan Tergiur Penawaran Haji Tanpa Antre Ilegal
Sehari-hari Kerja Serabutan, Program Sekolah Rakyat Ringankan Beban Ibu di Pati yang Hidupi Anak Seorang Diri
Cerita Kakak Bangga Adiknya Belajar di Sekolah Rakyat, Kaget Tiba-tiba Fasih Bahasa Inggris
Pemerintah Godok Payung Hukum untuk Pelindungan UMKM di Pasar Digital, Menteri Maman Abdurahman Sampaikan Progres dan Tujuannya
Kunjungi UMKM Pulau Rinca NTT, Menteri Maman Abdurahman Tegaskan Penguatan Ekonomi Kerakyatan Lewat PNM Untuk Tekan Kemiskinan Ekstrem
April 2026, Kinerja Industri Pengolahan Nasional Masih Tunjukkan Ketahanan di Tengah Dinamika Global ! Jubir Kemenperin Beberkan Variabel IKI
Tiga Perusahaan Jajaki Kerjasama Strategis Pengembangan Teknologi Pengolahan Air di Kawasan Industri
Industri Agro Nasional Dinilai Mampu Jaga Keberlanjutan Produksi di Tengah Dinamika Global dan Kenaikan Harga Bahan Baku Plastik, Apa Alasannya ?