Volume bulanan pengupasan lapisan tanah penutup gabungan Indonesia dan Australia meningkat dari 26,4 juta bank cubic meter (MBCM) pada Februari menjadi 30,4 MBCM pada Maret dan 34,3 MBCM pada April.
Sementara itu, produksi batu bara mencapai 5,9 juta ton (MT) pada April, masing-masing sekitar 16% dan 22% di atas rata-rata bulanan 1Q26.
Hasil 1Q26 Mencerminkan Portofolio yang Lebih Terfokus dan Perbaikan Struktur Biaya
Volume overburden removal turun 12% YoY menjadi 89 juta bank cubic meters (MBCM), sementara produksi batu bara turun 20% YoY menjadi 15 juta ton (MT).
Penurunan volume terutama mencerminkan berakhirnya kontrak di site Binungan di Indonesia dan site Burton di Australia, serta ramp-down di dua site Indonesia pada 2025. Site yang beroperasi normal tetap stabil.
Pendapatan tercatat sebesar US$318 juta, turun 10% YoY, sejalan dengan portofolio aktif yang lebih kecil.
Average Selling Price (ASP) bisnis kontraktor pertambangan naik 3% YoY, didukung oleh porsi kontrak riseand-fall yang lebih tinggi serta kenaikan tarif berjenjang yang terkait dengan harga batu bara.
EBITDA meningkat 98% YoY menjadi US$28 juta dari US$14 juta pada 1Q25, dengan margin EBITDA meningkat menjadi 11% dari 5% pada 1Q25.
Grup mencatat rugi bersih sebesar US$24 juta, dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$70 juta pada 1Q25.
Perbaikan sebesar 66% YoY ini mencerminkan pemulihan EBITDA serta tiga faktor non-operasional yang mendukung, yaitu keuntungan sebesar US$12 juta dari optimisasi portofolio ACG yang masih berjalan melalui penjualan aset lahan, penurunan kerugian investasi dari 29Metals sebesar US$12 juta, serta tidak berulangnya pencadangan piutang di Australia sebesar US$4 juta yang dicatat pada 1Q25.
Belanja modal tercatat sebesar US$20 juta, yang dialokasikan untuk menjaga keandalan armada dan keberlanjutan operasional.
Arus kas bebas (free cash flow) berbalik positif menjadi US$2 juta, dibandingkan dengan negatif US$19 juta pada 1Q25.
Perbaikan ini terutama didorong oleh penerimaan sebesar US$17 juta dari penjualan lahan dalam kerangka optimisasi portofolio ACG, serta didukung oleh pemulihan EBITDA dan belanja modal yang jauh lebih rendah.
Artikel Terkait
Langkah Perkuat Stabilitas Rupiah, Eksportir Sumber Daya Alam Wajib Simpan DHE di Bank Himbara ! Menko Airlangga Hartarto: Repatriasi 100 Persen
Pemerintah Indonesia Terbitkan Aturan Baru Wajib Repatriasi 100 Persen Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA)
Fokus Benahi Transparansi Transaksi ! PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) Dibentuk Untuk Cegah Kecurangan Ekspor atau Under Invoicing
Alfredo Dhilan Pengusaha Agrokreatif Kota Batu terpilih sebagai Young Ambassador Agriculture 2026 Kementerian Pertanian
Gak Transaksi Loh ! Nasabah BCA Tasikmalaya Hilang Dana Rp160 Juta, Pihak Bank Central Asia Justru Soroti Dugaan Akses Mobile Banking dari Pihak Luar
Samsara Bamboo Festival 2026 Usung Tema Jagath Karana, Dorong Bambu Jadi Solusi Lingkungan dan Ekonomi Hijau Bali
ICCN Suguhkan Indonesia Culture Festival sebagai Platform Pemajuan Kebudayaan Pariwisata Berkelanjutan dan Ekonomi Kreatif
Dari WALHI hingga Akademisi Menyoroti Pencemaran Teluk Buli, Minta Pemerintah Audit Aktivitas PT Feni Halmahera Timur
'Oleh-oleh' dari Prancis, Presiden Prabowo Bawa Capaian Kerja Sama Senilai Rp61,25 Triliun ! Fokus pada Sektor Apa Saja ?
Sukses Digelar, Penganugerahan Festival Film Pendek Perdana Kota Blitar Jadi Apresiasi Karya Kreatif Generasi Muda