Jalan Tengah Polemik Penolakan Peternakan Babi di Jepara yang Akan Dibangun oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, Wagub Jateng Sarankan Cari Lokasi Lain

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Selasa, 5 Agustus 2025 | 17:40 WIB
Foto ilustrasi peternakan babi - Wagub Jateng respon soal penolakan investasi peternakan babi di Jepara. (Kalimantansatu.com/Dok. Unsplash dirtjoy)
Foto ilustrasi peternakan babi - Wagub Jateng respon soal penolakan investasi peternakan babi di Jepara. (Kalimantansatu.com/Dok. Unsplash dirtjoy)

KALIMANTANSATU.COM - Investasi peternakan babi di Jepara, Jawa Tengah mengalami penolakan dari masyarakat.

Peternakan babi rencananya akan dibangun di Jepara oleh PT Charoen Pokphand Indonesia dan dirancang menjadi peternakan modern.

Penolakan pembangunan ini dikuatkan dengan fatwa haram yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah pada 1 Agustus 2025.

Meski telah ada penolakan dan fatwa haram yang dikeluarkan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengungkapkan tetap akan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Tujuan koordinasi ini untuk mencapai kesepakatan dan mendapatkan solusi terbaik.

Baca Juga: Terjadi Ledakan Sumur Minyak Pertamina EP Subang, Tim Investigasi Langsung Dibentuk

“Kalau saran kami nanti dibicarakan lagi, kita cari tempat yang lain kalau masih memungkinkan,” ucap Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen kepada wartawan di kantor DPRD Jawa Tengah pada Senin, 4 Agustus 2025.

Namun, untuk keputusan lebih lanjut, pejabat yang akrab dipanggil Gus Yasin ini menyerahkan sepenuhnya pada Pemerintah Kabupaten Jepara.

“Kami kembalikan ke Pemkab Jepara selaku pemegang kewenangan,” imbuhnya.

Ia juga mengingatkan tentang keadaan masyarakat yang harus tetap kondusif tentang keputusan yang akan dibuat oleh pemerintah.

Sehingga menurutnya, meski nilai investasi triliunan tetap harus mempertimbangkan aspirasi masyarakat.

Baca Juga: Media Italia Rumorkan Jay Idzes Pindah ke Torino, Bujukan Transfer Capai Rp170 Miliar

“Ini juga bentuk investasi buat kami karena memberikan pendapatan, tapi lebih utama bagaimana kondusivitas lingkungan,” sambungnya.

(*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X