Menguak Misteri Dalang Demo Agustus 2025: Kini Polisi Ungkap Dugaan Pendana Gelap hingga Spekulasi Adanya Aktor Asing

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Kamis, 25 September 2025 | 21:21 WIB
Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro menegaskan bakal menelusuri dalang utama atau mastermind di balik kerusuhan demo pada akhir Agustus 2025. (Kalimantansatu.com/Dok. Polri)
Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro menegaskan bakal menelusuri dalang utama atau mastermind di balik kerusuhan demo pada akhir Agustus 2025. (Kalimantansatu.com/Dok. Polri)

Menurutnya, tokoh asing itu adalah "non state actor" dengan pengaruh besar di negaranya.

"Dan saya sangat yakin bahwa kaki tangannya di dalam ini tidak ngerti bahwa dia dipakai. Tapi pada waktunya nanti harus dibuka," ungkap Hendropriyono.

Tujuan si mastermind itu, kata Hendropriyono, untuk membuat demokrasi Indonesia semakin kacau melalui cara non militer.

Meski yakin, ia tidak menyebut nama, hanya memberi petunjuk bahwa orang tersebut bukan pejabat resmi.

"Saya tidak lebih pintar. Tapi saya mengalami semua. Dan ini ada yang main gitu. Pada waktunya saya bisa sampaikan namanya yang main. Itu dari sana," ujar Hendropriyono.

"Tujuannya kan sama saja. Dari dulu juga maunya menjajah. Tapi kan caranya lain. Dulu kan pakai peluru, pakai bom. Kalau kita masih diam saja ya habis kita," imbuhnya.

Analisis Digital Jadi Pintu Masuk

Sementara itu, influencer sekaligus CEO Malaka Project, Ferry Irwandi menilai kerusuhan demo di akhir Agustus 2025 itu sebenarnya bisa dilacak melalui jejak digital.

“Dalam hitungan menit kita bisa tahu dari mana isu 25 Agustus itu muncul, siapa yang menggunakan hashtag bubarkan DPR, afiliasi mereka apa, siapa yang mereka dukung, dan siapa yang mereka serang. Simpel kok,” ujarnya dalam dialog publik bertajuk "Rakyat Bersuara", pada Selasa, 2 September 2025.

Baca Juga: Terpantau Dua Kali Transaksi ! Pengendali Era Mandiri Cemerlang Jual Saham IKAN Sebanyak 20 Juta Lembar, Segini Duit yang Dikantongi dan Sisa Sahamnya

Ferry menyebut metode seperti data analytics, scraping, hingga OSINT atau open source intelligence bisa membantu aparat menelusuri pola penyebaran isu.

Di sisi lain, ia menekankan hasil temuan digital sebaiknya diperlakukan sebagai pintu awal investigasi, bukan kesimpulan final.

“Bukan berarti akun-akun itu pasti pelakunya. Tapi mereka bisa jadi titik awal untuk diperiksa," terang Ferry.

Menurut Ferry, penelusuran digital bisa melengkapi kerja aparat, sekaligus mencegah penyelidikan hanya bergantung pada asumsi atau klaim sepihak.

"Itu cara kerja intelijen seharusnya, bukan sekadar menyebut nama-nama besar tanpa dasar,” tambahnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X