Pegang Prinsip Politik Bebas Aktif ! Indonesia Tegaskan Netralitas dalam Konflik Timur Tengah Setelah Konflik Amerika Serikat dan Israel vs Iran

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Jumat, 6 Maret 2026 | 22:01 WIB
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Dirjen Aspasaf) Kementerian Luar Negeri Santo Darmosumarto dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026). (Kalimantansatu.com/Dok. Bakom RI)
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Dirjen Aspasaf) Kementerian Luar Negeri Santo Darmosumarto dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026). (Kalimantansatu.com/Dok. Bakom RI)

KALIMANTANSATU.COM, JAKARTA — Indonesia menegaskan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif serta bersikap netral dalam menyikapi eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.

Posisi tersebut diambil tidak hanya sebagai wujud pelaksanaan amanat konstitusi, tetapi juga agar Indonesia dapat berperan secara aktif dan konstruktif dalam menjaga ketertiban dunia.

“Sebagai bentuk implementasi dari politik luar negeri kita yang bebas aktif dan tentunya amanat konstitusi untuk turut melaksanakan penketertiban dunia, Indonesia berharap untuk berperan sebagai honest broker, bukan sebagai aktor yang mengambil posisi terhadap salah satu pihak,” ujar Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Dirjen Aspasaf) Kementerian Luar Negeri Santo Darmosumarto dalam konferensi pers, Jumat (6/3/2026).

Baca Juga: KBRI Arab Saudi Pastikan Beri Akomodasi untuk Jemaah Umrah Indonesia yang Tertahan Akibat Situasi Keamanan Timur Tengah

Santo menjabarkan tiga langkah konkret yang telah dilakukan pemerintah sebagai implementasi dari prinsip politik luar negeri bebas aktif tersebut.

Pertama, pemerintah telah merilis pernyataan yang mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik untuk menghentikan kekerasan dan segera menempuh langkah deeskalasi.

Ia mengatakan bahwa Indonesia telah menyampaikan seruan tersebut sejak konflik antara AS-Israel dan Iran meletus pada Sabtu (28/2/2026).

Kedua, pemerintah juga mengintensifkan komunikasi diplomatik dengan negara-negara di kawasan.

Upaya ini dilakukan untuk mendorong dialog dan diplomasi, sekaligus menyampaikan kesiapan Indonesia untuk berperan sebagai mediator apabila dibutuhkan oleh pihak-pihak terkait.

Baca Juga: Bentuk Tim Respons Krisis, Pemerintah Indonesia Tingkatkan Perlindungan WNI di Timur Tengah

Dalam hal ini, Santo mengatakan bahwa dalam kurun sepekan Menteri Luar Negeri Sugiono telah melakukan komunikasi melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi.

Selain itu, Presiden Prabowo Subianto juga disebutnya telah berkomunikasi dengan pimpinan UEA, Emir Qatar, serta Raja Yordania.

"Tentunya yang kita ingin lakukan adalah mendorong penyelesaian damai berdasarkan hukum internasional," imbuh dia.

Ketiga, pemerintah memprioritaskan perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di kawasan Timur Tengah agar terhindar dari dampak konflik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X