reginternasional

Demonstrasi Nepal Dinilai Cerminan Luka Lama Monarki yang Masih Belum Sembuh Hingga Sekarang

Minggu, 14 September 2025 | 07:41 WIB
Melihat jejak sejarah sistem pemerintahan Nepal usai aksi demonstrasi besar berujung kerusuhan di Kathmandu. (Kalimantansatu.com/Dok. Unsplash Binaya)

KALIMANTANSATU.COM - Aksi demonstrasi besar di Kathmandu, Nepal, pada 8 September 2025 berujung kerusuhan.

Peristiwa bermula saat Generasi muda atau Gen Z turun ke jalan dengan tuntutan perubahan bentrok dengan aparat, menyebabkan 19 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka.

Sehari setelah peristiwa itu, krisis politik meledak di pucuk kekuasaan.

Perdana Menteri (PM) Nepal, KP Sharma Oli mengundurkan diri, disusul Presiden Nepal, Ram Chandra Poudel.

Kejatuhan dua pemimpin sekaligus menandai puncak gejolak terbaru di negeri Himalaya tersebut.

Berkaca dari hal itu, kini para pengamat menilai peristiwa ini bukanlah insiden tunggal.

Baca Juga: Generasi Muda Geram ! Pamer Kemewahan 'Nepo Kids' Anak Pejabat Jadi Pemicu Gelombang Tuntutan Reformasi di Nepal

Huru-hara tersebut menjadi cermin dari luka lama Nepal yang belum sembuh sejak keruntuhan monarki hampir dua dekade lalu. Begini ceritanya:

Skandal Putra Mahkota di Tahun 2001

Britannica mencatat, salah satu titik balik besar terjadi pada Juni 2001, ketika Putra Mahkota Dipendra membunuh Raja Birendra dan delapan anggota keluarga kerajaan.

“Peristiwa itu mengguncang Nepal, tidak hanya karena hilangnya raja, tetapi juga karena cara tragis yang meruntuhkan kepercayaan rakyat pada monarki,” tulis Britannica dalam laporannya yang dikutip pada Sabtu, 13 September 2025.

Kekuasaan kemudian beralih kepada Gyanendra. Namun, di tengah pemberontakan Maois yang sudah meletus sejak 1996, langkahnya dianggap justru memperburuk situasi.

Pada 2005, Gyanendra mengambil alih kekuasaan langsung dengan memberhentikan perdana menteri dan kabinet.

Baca Juga: Menelisik Awal Mula Gejolak Demonstrasi di Kathmandu Nepal, dari Skandal Korupsi hingga Larangan Main Medsos

“Keputusan itu memicu protes besar yang berlangsung berhari-hari dan semakin memperlemah posisi monarki,” tulis Britannica menggambarkan situasi pemerintahan Nepal kala itu.

Halaman:

Tags

Terkini