Di saat bersamaan, negara justru membayar kompensasi BBM bersubsidi lebih dari Rp13 triliun akibat perhitungan yang tidak efisien.
Fuad menilai praktik semacam ini menunjukkan bahwa kebijakan energi di Indonesia telah berjalan di dua rel yang berbeda.
"Ada jalur kebijakan untuk publik, tapi ada juga jalur khusus untuk segelintir pemain yang punya akses ke pejabat," katanya.
"Dan ketika pasar bisa disetir oleh segelintir orang dalam sistem, kepentingan publik hanya tinggal jargon."
Menanggapi hal tersebut, Vice President Corporate Communications PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, mengatakan bahwa perusahaan menghormati seluruh proses hukum yang sedang berjalan.
"Kita hormati dan ikuti saja proses hukum yang berjalan ya," ujar Fadjar saat dikonfirmasi Jaringan Promedia, Jumat (17/10/2025).
(*)
Artikel Terkait
Ketika Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Ogah Danai Family Office, Proyek Magnet Investasi ala Luhut Binsar Pandjaitan Sejak era Jokowi
Pemerintah Umumkan Paket Stimulus Ekonomi Terbaru, Menko Airlangga Hartarto Ungkap Ada Kuota 80 Ribu Program Magang Nasional Batch 2 dan BLT Tambahan
Yuk Belajar Data Sejak Dini di DQLab, Jadi Kunci Persiapkan Generasi yang Siap Hadapi Dunia Kerja Berbasis Data
Apakah Indonesia Siap Menuju BBM Etanol E10 ? Antara Persimpangan Ambisi Hijau dan Tantangan Baru Risiko di Lapangan
Kuota Magang Nasional Ditambah 80 Ribu untuk Sarjana Baru Lulus Mulai November 2025 ! Bagaimana Skema Gajinya ? Pemerintah Siapkan Anggaran Rp1,4 T
CEO Danantara Rosan Roeslani Optimis Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Tercapai, Indonesia Butuh Investasi Rp13.032 Triliun
Dukung AAUI Bali Rendezvous 2025, Indonesia Financial Group (IFG) Dorong Kolaborasi dan Transformasi Industri Asuransi
Salurkan Bantuan Pendidikan bagi Anak Prajurit TNI AD, IFG Gandeng Anggota Holding. Rizal Ariansyah: Wujud Nyata Komitmen Pembangunan SDM
Kemenkes Apresiasi MBG dan Bakal Monitoring Efektivitas, Dinilai Bantu Turunkan Angka Stunting hingga Mengatasi Masalah Kesehatan Nasional
Presiden Prabowo Subianto Gulirkan Magang Digaji Pemerintah, 1.666 Perusahaan Telah Buka 26 Ribu Lowongan