KALIMANTANSATU.COM – Pengamat ekonomi energi Noviardi Ferzi menilai kinerja keuangan dan operasional PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero sepanjang 2025 memang menunjukkan perbaikan signifikan.
Menurutnya, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kesehatan struktural jangka panjang.
Kinerja 2025 memang impresif—penjualan naik, laba melonjak, dan efisiensi mulai terasa.
Tetapi masih ada persoalan mendasar. Utang sekitar Rp711 triliun, ketergantungan pada subsidi APBN sekitar Rp177 triliun, oversupply listrik, serta risiko valuta asing dari kontrak IPP.
"Tanpa subsidi, potensi kerugian bahkan bisa mencapai Rp160 triliun. Ini perlu direformasi, bukan sekadar dikelola,” kata Noviardi dikutip Kalimantansatu.com dari terpantau.com, media jaringan Promedia, Rabu (18/2/2026).
Kendati demikian, secara kinerja tahunan, PLN dinilai semakin solid dibanding 2024.
Perseroan diproyeksikan membukukan laba bersih Rp12–15 triliun, melonjak sekitar 100–130 persen secara tahunan, dengan dukungan pendapatan usaha Rp550–580 triliun.
Capaian tersebut melampaui target RKAP sekitar Rp545 triliun.
Penjualan listrik pun mendekati 310 TWh atau lebih dari 102 persen target pemerintah, dengan pertumbuhan sekitar 4–6 persen secara tahunan.
Performa ini ditopang kinerja kuat semester I/2025, ketika PLN mencatat pendapatan Rp281,89 triliun (naik 7,57 persen YoY) dan laba usaha Rp30,6 triliun atau setara 131 persen dari target RKAP.
Sepanjang tahun, nilai penjualan listrik diperkirakan menembus Rp360 triliun, didorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga sekitar 6,62 persen dan sektor industri 4,17 persen.
Efisiensi biaya yang mencapai lebih dari Rp251 triliun turut mengerek profitabilitas hingga mencetak rekor baru.