ekonomi-bisnis

Ekonom INDEF Ibaratkan Ekonomi RI bak Sepak Bola, Sarankan Waktunya Ganti Strategi!

Rabu, 10 Juni 2026 | 14:28 WIB
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB) sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto. (Kalimantansatu.com/Dok. Istimewa)

Baca Juga: Kini Kamu Bisa Dukung Kalimantansatu.com Lewat Traktir Kopi, Fitur Sederhana yang Bikin Semakin Dekat Dengan Pembaca Lintas Generasi

KALIMANTANSATU.COM - Dinamika perekonomian global yang terus diguncang oleh ketidakpastian menuntut Indonesia untuk segera melakukan evaluasi mendasar terhadap kompas strategi pembangunan nasionalnya.

Mengandalkan pertumbuhan ekonomi semata tanpa memperkokoh fondasi sektor riil domestik dinilai hanya akan menempatkan Indonesia dalam posisi rentan terhadap gejolak eksternal.

Indonesia kini didorong untuk berani mengambil langkah taktis, berpindah dari zona pertumbuhan tinggi yang semu menuju sebuah tatanan ekonomi baru yang mandiri dan berdaulat.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik per 10 Juni 2026, Menkeu Purbaya Yakin Tak Berdampak ke Inflasi: Harusnya Limited

Pandangan strategis tersebut dikemukakan oleh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB) sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto.

Dalam analisisnya, ia mengibaratkan pengelolaan ekonomi sebuah negara layaknya taktik dalam memenangkan pertandingan olahraga besar.

"Dalam dunia sepak bola, kemenangan sering kali ditentukan oleh keberanian mengubah strategi. Ketika pola permainan lama tidak lagi efektif, pelatih melakukan penyesuaian taktik, mengganti pemain, bahkan mengubah formasi untuk mengejar hasil yang lebih baik," ujar Agus Herta Sumarto dalam keterangan tertulisnya, Rabu 10 Juni 2026.

Menurut Agus, logika analogi sepak bola tersebut berlaku sepenuhnya dalam konteks pembangunan ekonomi saat ini.

Ketika lingkungan global bergeser secara ekstrem dan berbagai kelemahan struktural yang lama mulai terlihat ke permukaan, sebuah negara dituntut untuk berani mengevaluasi strategi yang selama ini dijalankan.

"Tujuannya bukan menafikan keberhasilan masa lalu, melainkan memastikan bahwa pembangunan mampu menjawab tantangan masa depan," tegas Ekonom INDEF tersebut.

Baca Juga: Minta Kejelasan Dana Rp218 M, Investor Tagih Janji ke BGN Setelah Hak Kelola 97 Dapur MBG Tak Kunjung Rampung

Rapuhnya Fondasi Akibat Ketergantungan Global

Agus membeberkan catatan kritis mengenai perjalanan ekonomi Indonesia selama beberapa dekade terakhir.

Halaman:

Tags

Terkini