Ekonom INDEF Ibaratkan Ekonomi RI bak Sepak Bola, Sarankan Waktunya Ganti Strategi!

photo author
Prabu Warah, Kalimantan Satu
- Rabu, 10 Juni 2026 | 14:28 WIB
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB) sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto. (Kalimantansatu.com/Dok. Istimewa)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB) sekaligus Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Agus Herta Sumarto. (Kalimantansatu.com/Dok. Istimewa)

Ia tidak menampik bahwa strategi pembangunan nasional masa lalu terbukti sukses mencetak angka pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut menyimpan kerentanan besar karena dibangun di atas asumsi yang kurang kokoh mengenai integrasi pasar global.

"Selama puluhan tahun Indonesia mengejar pertumbuhan ekonomi dengan keyakinan bahwa keterbukaan pasar, investasi, dan integrasi global pada akhirnya akan membawa bangsa ini menuju kemakmuran. Sebagian keberhasilan memang tercapai. Namun semakin sering dunia diguncang krisis, semakin jelas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan ketahanan ekonomi," jelasnya secara rinci.

Lebih lanjut, ia memaparkan salah satu anomali struktural yang nyata terjadi pada sektor industri nasional. Meskipun proses industrialisasi tampak berkembang, kenyataan di lapangan menunjukkan struktur penopangnya masih sangat rapuh dan bergantung pada pasokan luar negeri.

"Industrialisasi berkembang, tetapi sebagian besar masih bergantung pada bahan baku, komponen, mesin, dan teknologi impor. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau rantai pasok global terganggu, biaya produksi nasional ikut melonjak dan daya saing industri domestik tertekan," kata dosen FEB UMB ini.

Baca Juga: Ingatkan Amanah ! Pesan Gus Miftah untuk Pejabat Atas hingga Petugas SPPG, Ada Hak Masyarakat dalam Program MBG

Kerapuhan struktural ini, lanjut Agus, juga menjalar kuat ke sektor pembiayaan pembangunan nasional. Indonesia dinilai terlalu lama mengandalkan arus modal asing guna menutup kebutuhan investasi domestik, termasuk dalam menyiasati defisit transaksi berjalan yang berulang kali terjadi melalui instrumen modal portofolio jangka pendek (hot money).

"Dalam kondisi normal, strategi ini memang mampu menyediakan likuiditas dan pembiayaan yang dibutuhkan perekonomian. Namun ketika terjadi gejolak global, modal yang masuk dengan cepat dapat pula keluar dengan cepat," paparnya memperingatkan.

Ia meminta pengambil kebijakan mengambil pelajaran berharga dari sejarah kelam masa lalu, khususnya saat badai krisis finansial menerjang kawasan Asia akhir abad lalu.

"Pengalaman krisis Asia tahun 1997–1998 maupun berbagai episode gejolak pasar keuangan global menunjukkan bahwa fondasi ekonomi yang terlalu bergantung pada arus modal jangka pendek sangat rentan terhadap perubahan sentimen investor internasional. Ketika kepercayaan pasar menurun, nilai tukar tertekan, pasar keuangan bergejolak, dan ruang kebijakan pemerintah menjadi semakin sempit," tambahnya.

Baca Juga: Dasco Beberkan Ikhwal Pertemuan Chatib Basri dengan Presiden Prabowo Subianto

Menjadi Pengendali, Bukan Sekadar Peserta Globalisasi

Agus menyoroti langkah Indonesia yang cenderung membuka diri terhadap arus globalisasi ekonomi tanpa terlebih dahulu membentengi diri dengan pilar-pilar domestik yang memadai.

Akibatnya, alih-alih meraup keuntungan optimal dari keterbukaan tersebut, kapasitas produksi nasional justru kerap tertinggal.

"Integrasi perdagangan dan keuangan global memang membawa banyak manfaat, tetapi manfaat tersebut tidak selalu terdistribusi secara merata apabila kapasitas produksi nasional, penguasaan teknologi, ketahanan pangan, dan ketahanan energi belum cukup kuat. Akibatnya, Indonesia menjadi peserta dalam arus globalisasi, tetapi belum sepenuhnya menjadi pengendali arah perjalanannya," cetus Agus.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Prabu Warah

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X