"Pada akhirnya, kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa kuat mata uangnya, melainkan oleh seberapa besar kemampuannya memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri. Nilai tukar hanyalah cermin. Yang menentukan isi pantulannya adalah kemampuan bangsa memproduksi pangan, menguasai energi, dan mengembangkan teknologi," jelas Agus.
Ia menambahkan bahwa rekam jejak sejarah telah membuktikan bahwa kemakmuran finansial yang semu tidak akan mampu bertahan lama tanpa ditopang oleh kemandirian produksi yang nyata di sektor-sektor vital.
"Sejarah menunjukkan bahwa bangsa-bangsa besar tidak lahir karena mereka memiliki mata uang yang kuat atau pasar keuangan yang besar. Mereka menjadi besar karena memiliki kemampuan memproduksi apa yang mereka butuhkan, menguasai teknologi yang menentukan masa depan, serta membangun ketahanan ekonomi yang tidak mudah diguncang oleh perubahan arah angin global," ungkapnya.
Kini, di tengah pergeseran peta geopolitik dan ekonomi dunia, Indonesia dihadapkan pada ujian kecepatan untuk berbenah diri. Momentum perubahan tatanan global harus dimanfaatkan sebagai titik balik akselerasi kemandirian nasional.
"Tatanan ekonomi dunia sedang berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia harus berubah, melainkan seberapa cepat kita mampu memperkuat fondasi kemandirian nasional. Sebab pada akhirnya, bangsa yang benar-benar merdeka bukanlah bangsa yang paling kaya, melainkan bangsa yang mampu berdiri tegak di atas kekuatan ekonominya sendiri," pungkas Agus Herta Sumarto.
(*)
Artikel Terkait
BI Rate Naik Menjadi 5,5 Persen, Inilah Dampak yang Berpotensi Dirasakan Masyarakat
Buku Presiden Solusi Catat 108 Kebijakan Prabowo Subianto, Kepala Bakom RI Qodari Sebut 'Bapak Transformasi Bangsa'
Dasco Beberkan Ikhwal Pertemuan Chatib Basri dengan Presiden Prabowo Subianto
Ingatkan Amanah ! Pesan Gus Miftah untuk Pejabat Atas hingga Petugas SPPG, Ada Hak Masyarakat dalam Program MBG
Minta Kejelasan Dana Rp218 M, Investor Tagih Janji ke BGN Setelah Hak Kelola 97 Dapur MBG Tak Kunjung Rampung
Harga Pertamax Naik per 10 Juni 2026, Menkeu Purbaya Yakin Tak Berdampak ke Inflasi: Harusnya Limited