Oleh karena itu, ia melihat agenda kemandirian yang saat ini mulai didorong oleh pemerintah sebagai sebuah tindakan koreksi strategis yang sangat tepat untuk menyelesaikan persoalan struktural menahun.
"Dalam konteks itulah agenda kemandirian yang saat ini mulai didorong pemerintah dapat dipahami bukan semata-mata sebagai pilihan ideologis, melainkan juga sebagai koreksi strategis terhadap sejumlah kelemahan struktural yang selama ini belum terselesaikan. Kemandirian pangan, energi, dan teknologi pada dasarnya merupakan upaya memperkuat fondasi ekonomi agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal yang berada di luar kendali nasional," tuturnya.
Nasionalisme Ekonomi yang Sehat Sebagai Kunci
Agus memberikan catatan penting agar tidak terjadi salah kaprah dalam menerjemahkan konsep kemandirian ekonomi.
Menurutnya, konsep mandiri sama sekali tidak merujuk pada praktik proteksionisme ekstrem atau isolasi diri dari pergaulan internasional.
"Kemandirian bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional atau menolak investasi asing. Sebaliknya, kemandirian berarti membangun kemampuan domestik yang cukup kuat sehingga hubungan dengan dunia internasional berlangsung dalam posisi yang lebih setara. Negara tetap terbuka terhadap perdagangan, investasi, dan kerja sama global, tetapi tidak lagi berada dalam posisi ketergantungan yang berlebihan," urai Agus.
Guna memuluskan transisi menuju tatanan ekonomi baru ini, Agus mendorong urgensi penanaman semangat nasionalisme ekonomi yang sehat di tengah-tengah masyarakat.
Ia menekankan bahwa gagasan ini murni bersifat rasional demi keberlangsungan kedaulatan bangsa.
"Nasionalisme ekonomi bukanlah sikap anti-asing, melainkan keberpihakan yang rasional terhadap kepentingan nasional. Bentuknya dapat berupa kebanggaan menggunakan produk dalam negeri yang berkualitas, dukungan terhadap industri nasional, peningkatan penggunaan komponen lokal, serta tumbuhnya kecintaan terhadap mata uang rupiah sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa," sebutnya.
Ia kemudian mencontohkan kisah sukses sejumlah negara raksasa Asia yang berhasil melakukan lompatan kelas menjadi kekuatan ekonomi dunia berkat perpaduan kebijakan yang tepat dan loyalitas kolektif masyarakatnya terhadap produk lokal.
"Dalam banyak kasus, negara-negara yang berhasil melakukan lompatan pembangunan bukan hanya karena memiliki kebijakan industri yang tepat, tetapi juga karena masyarakatnya memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan bangsanya sendiri. Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok membangun industri nasionalnya tidak hanya melalui kebijakan pemerintah, tetapi juga melalui kebanggaan kolektif terhadap produk dan kemampuan domestik," imbuhnya.
Nilai Tukar Hanyalah Cermin Fondasi Riil
Agus Herta Sumarto memaparkan refleksi mendalam mengenai hakikat kekuatan ekonomi sebuah bangsa.
Ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar mata uang bukanlah indikator utama yang berdiri sendiri, melainkan cerminan dari kekuatan sektor riil domestik.