KALIMANTANSATU.COM - Sebagian publik di Tanah Air sedang hangat memperbincangkan ihwal pelemahan nilai tukar Rupiah bagi ekonomi Indonesia.
Persoalan kepercayaan investor terhadap fiskal Indonesia kian memicu keprihatinan bagi sebagian kalangan pelaku bisnis.
Terlebih, sektor swasta kini dihadapkan pilihan untuk meneruskan kenaikan biaya ke konsumen yang berisiko memukul daya beli.
Sebagian korporasi bahkan dinilai kerap menyerapnya dengan menurunkan margin keuntungan, yang akan membuat pertumbuhan korporasi melambat pada paruh kedua tahun 2026 ini.
Baca Juga: Dasco Beberkan Ikhwal Pertemuan Chatib Basri dengan Presiden Prabowo Subianto
Hal tersebut, diungkapkan eks Menteri Keuangan (Menkeu) RI periode 2013-2014 sekaligus ekonom senior, Chatib Basri.
"Persoalan kita itu adalah soal confidence di fiskal," kata Chatib di Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Chatib membeberkan analisis data kausalitas yang dilakukan antara pergerakan rupiah dengan risiko fiskal.
Hal itu diukur melalui Credit Default Swap (CDS), yaitu biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar obligasi negara.
Hasil pengujian data menunjukkan sebesar 23 persen dari variasi yang menyebabkan pelemahan rupiah dapat dijelaskan secara langsung oleh pergerakan CDS.
Sebaliknya, fluktuasi rupiah hanya mampu menerangkan 2,3 persen dari pergerakan CDS.
Baca Juga: Ekonom INDEF Ibaratkan Ekonomi RI bak Sepak Bola, Sarankan Waktunya Ganti Strategi!
Rupiah Turun saat Negara Lain Stabil