ekonomi-bisnis

Isu Rupiah Makin Keok hingga Bikin Cemas Investor! Chatib Basri Beberkan Alasan Logis dari Risiko Fiskal, Benarkah Kondisi Ekonomi RI 2026 Mirip 1998?

Rabu, 10 Juni 2026 | 14:41 WIB
Menyoroti penuturan eks Menkeu periode 2013-2014, Chatib Basri terkait pelemahan nilai tukar rupiah bagi Indonesia. (Instagram.com/@chatibbasri)

Chatib memaparkan, data menunjukkan nilai CDS Indonesia sudah mulai memburuk sejak Januari 2026, sebelum pecahnya perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Terkusus, saat Moody’s mengubah outlook dan muncul kekhawatiran pasar mengenai defisit anggaran yang mendekati 3 persen.

Chatib menilai, hal ini membuktikan faktor utama pelemahan rupiah tak hanya dampak dari perang global, melainkan bersumber dari perhatian investor terhadap kredibilitas fiskal domestik.

Tak ayal, jika melihat sejumlah negara lain yang juga terdampak perang, maka mereka tak mengalami depresiasi mata uang sedalam Indonesia.

Baca Juga: Minta Kejelasan Dana Rp218 M, Investor Tagih Janji ke BGN Setelah Hak Kelola 97 Dapur MBG Tak Kunjung Rampung

Tepis Kondisi Ekonomi 2026 Mirip 1998

Terkait dampak pelemahan kurs ke inflasi, estimasi Bank Indonesia (BI) menunjukkan setiap depresiasi Rp1 terhadap dolar AS hanya menyumbang tambahan inflasi sekitar 0,13 persen.

Dengan depresiasi rupiah yang berada di kisaran 8 persen, Chatib menyoroti efek rembetan ke inflasi umum masih di bawah 1 persen.

Eks Menkeu RI itu menyebut, dampak kenaikan harga disebut akan sangat terasa pada produk-produk berbasis impor seperti plastik dan besi.

"Sekarang pertanyaannya adalah sama nggak (kondisi ekonomi) 1998 dengan 2026? My answer is no," ungkap Chatib.

"Kenapa? Yang membedakan paling besar 98 dengan 2026 itu adalah flexible exchange rate," imbuhnya.

Secara keseluruhan, depresiasi rupiah dinilai tidak akan membawa Indonesia ke jurang resesi.

Bahkan, Chatib menilai pertumbuhan ekonomi di level 4,5-5 persen, masih tergolong sangat baik dalam standar global saat ini.

(*)

Halaman:

Tags

Terkini