Perbandingan Emas vs Bitcoin Dalam Segi Safe Haven di Era Digital: Mana yang Lebih Unggul ya Gaes ?

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Rabu, 6 Agustus 2025 | 19:10 WIB
Ilustrasi bitcoin. (Kalimantansatu.com/Dok. Freepik)
Ilustrasi bitcoin. (Kalimantansatu.com/Dok. Freepik)

KALIMANTANSATU.COM - Emas selama ini dikenal sebagai aset investasi yang aman atau disebut juga safe haven.

Istilah ini merujuk pada instrumen yang diharapkan mampu mempertahankan bahkan meningkatkan nilainya di tengah ketidakpastian ekonomi atau gejolak pasar.

Belakangan, muncul fenomena baru yang menggeser paradigma tersebut. Selain emas, kini Bitcoin juga dianggap sebagai safe haven bagi sebagian investor, terutama saat kondisi ekonomi global cenderung tidak stabil.

Menariknya, cara kerja keuangan antara emas dan Bitcoin ternyata memiliki kemiripan. Hal ini disampaikan oleh pengusaha sekaligus pemilik platform jual beli aset kripto, Indodax, Oscar Darmawan, dalam siniar YouTube Success Before 30 yang tayang pada 4 Agustus 2025.

Baca Juga: Kena Dampak Kampanye Negatif dan Serangan Buzzer ! Produk Deodoran Asal Denmark Perspirex Pamit dari Indonesia

"Emas sama Bitcoin ya, kita harus tahu cara kerja emas dan Bitcoin itu mirip, atau bahkan bisa dikatakan sama persis," ujar Oscar dalam siniar tersebut.

Menurut Oscar, nilai yang dimiliki emas tidak muncul begitu saja, melainkan karena ada biaya eksplorasi yang cukup besar.

"Emas itu punya nilainya karena faktor nilai biaya eksplorasi, atau biaya pertambangan. Jadi setiap emas yang diambil dari bumi, itu ada biayanya. Untuk menggalinya, memurnikannya, dan lain sebagainya," jelasnya.

Biaya eksplorasi emas, lanjut Oscar, bahkan bisa mencapai angka signifikan.

"Kurang lebih biaya eksplorasi emas itu sekitar hampir 50 USD (atau sekitar Rp818.065) per gramnya," imbuhnya.

Baca Juga: Rangkuman Kabar Saham Hari Ini untuk Insight Investasi 6 Agustus 2025 : EMTK Tambah Kepemilikan Saham di SCMA, BPS Rilis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Keterbatasan pasokan emas di bumi juga menjadi faktor lain yang mempengaruhi harganya.

"Selain daripada faktor supply yang terbatas itu, ada demand (permintaan), sehingga kemudian harganya semakin naik," terang pengusaha berusia 39 tahun itu.

Kesamaan logika ini juga berlaku pada Bitcoin yang meski berbentuk digital, tetap memiliki biaya produksi yang besar.

Oscar menambahkan, biaya tersebut belum termasuk pembelian peralatan penambangan (mining) serta infrastruktur yang diperlukan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X