investasi

Strategi Value Investing di Tengah Volatilitas Pasar Saham: Ketahui Cara Berburu Saham Undervalued, Ini Rahasia Menemukan Saham Salah Harga yang Cuan

Senin, 17 Agustus 2026 | 19:56 WIB
ILUSTRASI PASAR SAHAM - Strategi Value Investing di Tengah Volatilitas Pasar Saham: Ketahui Cara Berburu Saham Undervalued, Ini Rahasia Menemukan Saham Salah Harga yang Cuan (Kalimantansatu.com/Dok. Pixabay Joa70)

KALIMANTANSATU.COM - Bagaimana cara menemukan saham yang salah harga (undervalued) untuk investasi jangka panjang ? Ini menjadi pertanyaan bagi investor saham, khususnya para pemula.

Menemukan saham undervalued membutuhkan analisis fundamental yang mendalam dengan membandingkan nilai intrinsik perusahaan terhadap harga pasarnya.

Investor dapat memanfaatkan pengukur valuasi seperti rasio Price to Earnings (P/E) dan Price to Book Value (P/BV) yang berada di bawah rata-rata industri, dikombinasikan dengan Margin of Safety minimal 20-30% untuk meminimalkan risiko kerugian di tengah dinamika pasar modal.

Baca Juga: Investasi Saham Blue Chip vs Growth Stock untuk Pemula: Mana Lebih Ideal? Kenali Karakteristik Utama, Perbandingan Langsung Hingga Strategi Kombinasi

Dinamika Pasar Modal dan Esensi Value Investing

Pasar saham senantiasa bergerak dinamis mengikuti sentimen ekonomi makro, perubahan tingkat suku bunga, serta isu geopolitik global.

Pergerakan naik-turun harga saham sering kali dipicu oleh reaksi emosional pelaku pasar jangka pendek, mulai dari rasa takut (fear) hingga ketakutan tertinggal momentum (FOMO).

Bagi investor berpengalaman yang mengincar pertumbuhan kekayaan jangka panjang, volatilitas pasar semacam ini bukanlah ancaman, melainkan kesempatan emas untuk berburu saham perusahaan berkualitas tinggi yang sedang dijual dengan harga diskon.

Metode value investing — pendekatan investasi yang dipopulerkan oleh Benjamin Graham dan disempurnakan oleh Warren Buffett — mengajarkan investor untuk tidak berfokus pada naik-turunnya harga di layar perdagangan harian.

Sebaliknya, pendekatan ini menitikberatkan pada nilai riil dari bisnis yang mendasari saham tersebut.

Ketika pasar mengalami kepanikan dan menekan harga emiten bagus ke bawah nilai wajarnya, itulah saat terbaik bagi value investor untuk masuk.

Baca Juga: Menakar Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) vs Lump Sum di Pasar Saham yang Volatil, Mana yang Lebih Menguntungkan ?

Tiga Pilar Utama Pembentuk Strategi Value Investing

Sebelum melakukan pembelian saham, investor harus memahami tiga konsep dasar yang menjadi fondasi utama dalam menilai sebuah emiten:

  • Memahami Nilai Intrinsik (Intrinsic Value): Prinsip dasar yang paling fundamental adalah membedakan antara "harga" dan "nilai". Harga adalah nominal yang Anda bayarkan di pasar modal, sedangkan nilai adalah kualitas, arus kas, dan kapasitas pertumbuhan aset riil yang Anda dapatkan dari perusahaan tersebut.

  • Menerapkan Margin of Safety (Batas Keamanan): Margin of Safety adalah selisih diskon antara nilai intrinsik perusahaan yang telah dihitung dengan harga pasar saham saat ini. Semakin besar diskon harga jual sebuah saham dari nilai aslinya (misalnya 20% hingga 30%), semakin kecil pula risiko kerugian permanen yang harus ditanggung investor jika analisisnya meleset.

Halaman:

Tags

Terkini