opini

[KOLOM OPINI] Simalakama AI Untuk Media Massa

Minggu, 28 September 2025 | 19:09 WIB
Agus Sudibyo, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat. (foto Promedia)

Sayangnya, faktor penentunya bukan pada diri media massa sendiri, melainkan pada kebijakan dan keputusan perusahaan platform digital.

Semua pihak paham media massa umumnya sangat bergantung —bahkan hingga pada titik yang sangat rentan— pada platform media sosial dan mesin pencari untuk meraih trafik, membangun interaksi sosial, dan mengonversinya menjadi pendapatan iklan.

Karena itu, setiap perubahan yang dilakukan platform digital guna beradaptasi dengan ledakan pengaruh teknologi AI juga berdampak langsung pada praktik bermedia massa secara keseluruhan.

Perubahan yang dimaksud misalnya ketika lonjakan volume konten buatan AI memaksa platform besar seperti Google dan Meta memperketat kurasi dan penilaian kualitas konten yang disebarkan melalui platform mesin pencarian dan media sosial yang mereka operasikan.

Baca Juga: Alasan AI Bukan Hanya Sekadar Tren, namun Jadi Kebutuhan Pekerja Remote di era Digital Masa Kini

Google telah menata ulang algoritma pencariannya untuk mengurangi dominasi konten sintetis berkualitas minimal di tampilan hasil pencarian. Google berusaha memisahkan antara konten murni buatan AI dengan konten dengan sentuhan editorial manusia (original content).

Dalam kerangka ini, Google menerapkan standar E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) guna memastikan konten dengan nilai informasional tinggi diprioritaskan dalam peringkat hasil pencarian.

Experience menuntut pengalaman langsung penulis, Expertise mengharuskan keahlian penulis yang dapat diverifikasi, Authoritativeness menekankan otoritas sumber yang digunakan, dan Trustworthiness mengacu pada tingkat keandalan konten, termasuk akurasi fakta, transparansi sumber, dan integritas penulis atau media massa.

Meta, induk perusahaan dari Facebook dan Instagram, menghadapi tantangan serupa dengan lokus yang berbeda.

Mereka telah menerapkan algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi sosial di sekitar konten pengguna.

Namun, banjir konten AI generatif beresiko mengurangi makna dan nilai ekonomi dari interaksi tersebut.

Mengantisipasi hal ini, Meta kemudian menerapkan prinsip Meaningful, Informative, dan Accurate.

Konten yang dibagikan pengguna mesti relevan dengan minat dan kebutuhan pengguna yang lain, memberikan wawasan atau perspektif baru, serta didasarkan pada fakta yang terverifikasi.

Sampai di sini, Google dan Meta telah berkontribusi menciptakan filter untuk menjaga kualitas konten yang beredar di jagat maya.

Baca Juga: 5 Cara Menyusun Strategi Bisnis dengan Bantuan AI, Mulai dari Riset Pasar hingga Bangun Brand yang Kuat

Halaman:

Tags

Terkini