Dengan demikian, kebijakan pengutamaan konten orisinal itu lebih mencerminkan strategi platform digital untuk mempertahankan reputasi dan kendali atas pasar periklanan, sekaligus untuk melakukan dataveillance secara gratis tetapi berkualitas.
Dukungan terhadap kepentingan media massa dalam hal ini lebih merupakan efek samping, bukan tujuan utama yang disengajakan.
Ketidakselarasan Insentif
Proses dataveillance itu melahirkan simalakama berikutnya untuk industri media massa.
Singkat kata, semua platform digital, termasuk Google dan Meta, sesungguhnya tengah mengembangkan model AI generatif dan AI prediktif mereka sendiri.
Untuk itu, mereka membutuhkan data corpus pelatihan model AI yang relevan, berkualitas, dan buatan manusia (bukan mesin).
Jika ruang digital dibanjiri konten spam atau konten sintetis buatan AI, data corpus pelatihan model AI terkontaminasi (data poisoning) sehingga model AI yang dihasilkan juga menurun kualitasnya.
Dengan kata lain, penerapan sistem E-E-A-T dan prinsip Meaningful, Informative, Accurate sesungguhnya untuk membersihkan pasokan data untuk pipeline pelatihan model AI.
Platform digital ibaratnya sedang menjala “nutrisi bergizi gratis” yang membuat produk AI generatif atau prediktif mereka semakin sehat dan cemerlang.
Yang terjadi kemudian adalah ketidakselarasan insentif (incentive misalignment) antara media massa dan platform pengembang model AI.
Konten jurnalistik berkualitas menjadi “nutrisi bergizi tinggi” penopang kecerdasan AI, tetapi manfaat ekonomi dari AI tersebut tidak kembali kepada media massa sebagai pembuat konten, alih-alih dikuasai oleh sang pengembang model AI.
Di era link economy (sebelum ledakan AI), pengguna terpola untuk mencari konten di mesin pencarian atau feed media sosial.
Lalu pengguna mengklik artikel atau tautan yang ditemukan di sana. Waktu baca terjadi di situs yang diklik pengguna, dan dari situlah pendapatan iklan, berlangganan, atau sponsorship mengalir ke publisher.
Ledakan AI generatif lalu membawa kita era answer economy. Pada era ini, pencarian pengguna diselesaikan secara langsung oleh mesin pencarian lewat AI overview (ringkasan jawaban).
Artikel Terkait
Diskusi di Acara CITCOM CONNEXT 2025 ! Kemenkomdigi, Komunitas dan Dunia Usaha Sepakat Rumuskan Adopsi AI
Kemenkes Mengembangkan AI untuk Diagnosis dan Terapi Kanker. Klaim Bisa Bantu Kurangi Biaya Pengobatan Pasien
Imbau Jangan Langsung Percaya Foto dan Video Bernarasi Provokatif di Dunia Digital, Rizky Prabowo Rahino : 'Bisa Saja Hasil Buatan AI'
Perkuat Narasi Positif, Kementerian BUMN Dorong Revolusi Komunikasi Digital Lewat AI dan Peran Karyawan sebagai Duta Perusahaan
Wamenkomdigi Nezar Patria Soroti Penyalahgunaan AI dan Deepfake, Perempuan dan Anak Rawan Jadi Korban
Dinilai Buruk ! Rating Film Animasi Merah Putih One for All Hanya 1,0 di IMDb. Selain Tak Mampu Gugah Emosi, Penonton Duga Plot Ceritanya dari AI
41 Persen Perusahaan PHK Massal hingga 2030, Dampak AI yang Kian Marak Dipakai Dunia Kerja Global
Kata Ekonom Soal Revolusi AI, Generasi Z Berada di Ambang Peluang dan Ancaman Nyata bagi Masa Depan Karier. Mengapa ?
5 Cara Menyusun Strategi Bisnis dengan Bantuan AI, Mulai dari Riset Pasar hingga Bangun Brand yang Kuat
Alasan AI Bukan Hanya Sekadar Tren, namun Jadi Kebutuhan Pekerja Remote di era Digital Masa Kini