Sayangnya, faktor penentunya bukan pada diri media massa sendiri, melainkan pada kebijakan dan keputusan perusahaan platform digital.
Semua pihak paham media massa umumnya sangat bergantung —bahkan hingga pada titik yang sangat rentan— pada platform media sosial dan mesin pencari untuk meraih trafik, membangun interaksi sosial, dan mengonversinya menjadi pendapatan iklan.
Karena itu, setiap perubahan yang dilakukan platform digital guna beradaptasi dengan ledakan pengaruh teknologi AI juga berdampak langsung pada praktik bermedia massa secara keseluruhan.
Perubahan yang dimaksud misalnya ketika lonjakan volume konten buatan AI memaksa platform besar seperti Google dan Meta memperketat kurasi dan penilaian kualitas konten yang disebarkan melalui platform mesin pencarian dan media sosial yang mereka operasikan.
Baca Juga: Alasan AI Bukan Hanya Sekadar Tren, namun Jadi Kebutuhan Pekerja Remote di era Digital Masa Kini
Google telah menata ulang algoritma pencariannya untuk mengurangi dominasi konten sintetis berkualitas minimal di tampilan hasil pencarian. Google berusaha memisahkan antara konten murni buatan AI dengan konten dengan sentuhan editorial manusia (original content).
Dalam kerangka ini, Google menerapkan standar E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) guna memastikan konten dengan nilai informasional tinggi diprioritaskan dalam peringkat hasil pencarian.
Experience menuntut pengalaman langsung penulis, Expertise mengharuskan keahlian penulis yang dapat diverifikasi, Authoritativeness menekankan otoritas sumber yang digunakan, dan Trustworthiness mengacu pada tingkat keandalan konten, termasuk akurasi fakta, transparansi sumber, dan integritas penulis atau media massa.
Meta, induk perusahaan dari Facebook dan Instagram, menghadapi tantangan serupa dengan lokus yang berbeda.
Mereka telah menerapkan algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi sosial di sekitar konten pengguna.
Namun, banjir konten AI generatif beresiko mengurangi makna dan nilai ekonomi dari interaksi tersebut.
Mengantisipasi hal ini, Meta kemudian menerapkan prinsip Meaningful, Informative, dan Accurate.
Konten yang dibagikan pengguna mesti relevan dengan minat dan kebutuhan pengguna yang lain, memberikan wawasan atau perspektif baru, serta didasarkan pada fakta yang terverifikasi.
Sampai di sini, Google dan Meta telah berkontribusi menciptakan filter untuk menjaga kualitas konten yang beredar di jagat maya.
Artikel Terkait
Diskusi di Acara CITCOM CONNEXT 2025 ! Kemenkomdigi, Komunitas dan Dunia Usaha Sepakat Rumuskan Adopsi AI
Kemenkes Mengembangkan AI untuk Diagnosis dan Terapi Kanker. Klaim Bisa Bantu Kurangi Biaya Pengobatan Pasien
Imbau Jangan Langsung Percaya Foto dan Video Bernarasi Provokatif di Dunia Digital, Rizky Prabowo Rahino : 'Bisa Saja Hasil Buatan AI'
Perkuat Narasi Positif, Kementerian BUMN Dorong Revolusi Komunikasi Digital Lewat AI dan Peran Karyawan sebagai Duta Perusahaan
Wamenkomdigi Nezar Patria Soroti Penyalahgunaan AI dan Deepfake, Perempuan dan Anak Rawan Jadi Korban
Dinilai Buruk ! Rating Film Animasi Merah Putih One for All Hanya 1,0 di IMDb. Selain Tak Mampu Gugah Emosi, Penonton Duga Plot Ceritanya dari AI
41 Persen Perusahaan PHK Massal hingga 2030, Dampak AI yang Kian Marak Dipakai Dunia Kerja Global
Kata Ekonom Soal Revolusi AI, Generasi Z Berada di Ambang Peluang dan Ancaman Nyata bagi Masa Depan Karier. Mengapa ?
5 Cara Menyusun Strategi Bisnis dengan Bantuan AI, Mulai dari Riset Pasar hingga Bangun Brand yang Kuat
Alasan AI Bukan Hanya Sekadar Tren, namun Jadi Kebutuhan Pekerja Remote di era Digital Masa Kini