Konten orisinal tiba-tiba menjadi “paradigma” dan media massa seperti menemukan jalan kembali ke khittah sebagai penyedia informasi yang bernilai dan terpercaya.
Persoalannya kemudian, apakah periklanan digital juga telah berubah semakin mengapresiasi konten orisinil? Inilah masalah peliknya.
Sistem periklanan digital sejauh ini masih bertumpu pada metrik kuantitatif: trafik, impressions, click-through rate (CTR), dan durasi keterpaparan (dwell time).
Artinya, meskipun Google dan Meta telah mengafirmasi konten berkualitas melalui E-E-A-T dan prinsip meaningfulness, insentif finansial di ekosistem periklanan umumnya masih memprioritaskan skala distribusi konten, alih-alih kedalaman atau kebermaknaan konten.
Media massa yang kembali fokus mengejar kualitas konten tetap menghadapi kesulitan monetisasi, sementara para peternak konten klikbait tetap bisa memproduksi ribuan konten untuk menguasai inventori iklan.
Inkonsistensi ini menimbulkan kegamangan para pengelola media massa.
Di satu sisi mereka harus menyesuaikan dengan algoritma distribusi konten yang menuntut peningkatan orisinalitas konten, di sisi lain mereka menghadapi fakta bahwa konten orisinal tetap sulit dimonetisasi.
Jika tetap tidak ada insentif yang memadai untuk konten orisional, mereka bisa jadi tergoda untuk kembali mengintensifkan produksi konten yang sensasional, clickbait, dengan nilai informasi yang rendah.
Padahal distribusi konten yang demikian juga ini telah dibatasi oleh perubahan algoritma seperti dijelaskan di atas.
Jika pengutamaan konten orisinal ternyata tidak serta merta menguntungkan media massa, apa sesungguhnya motif Google dan Meta sebagai sponsor utamanya?
Tanpa mengesampingkan dampak positifnya, pengutamaan konten orisinal sesungguhnya lebih mencerminkan strategi kedua raksasa teknologi itu untuk mempertahankan kepentingan bisnis di tengah ledakan konten buatan AI generatif.
Mereka berupaya untuk membangun citra sebagai penopang ruang publik digital yang beradab, menjaga agar pengguna tetap menghabiskan waktu lebih lama di platform mereka sehingga
peluang penayangan iklan tetap tinggi, mempertahankan minat pengiklan premium yang ingin beriklan di lingkungan konten yang aman dan kredibel, serta megantsipasi peningkatan biaya storage dan computing akibat membanjirnya konten sintetis berkualitas rendah.
Di saat yang sama, mereka sesungguhnya ingin mengamankan suplai materi berkualitas tinggi untuk melatih model AI yang lebih cerdas.
Artikel Terkait
Diskusi di Acara CITCOM CONNEXT 2025 ! Kemenkomdigi, Komunitas dan Dunia Usaha Sepakat Rumuskan Adopsi AI
Kemenkes Mengembangkan AI untuk Diagnosis dan Terapi Kanker. Klaim Bisa Bantu Kurangi Biaya Pengobatan Pasien
Imbau Jangan Langsung Percaya Foto dan Video Bernarasi Provokatif di Dunia Digital, Rizky Prabowo Rahino : 'Bisa Saja Hasil Buatan AI'
Perkuat Narasi Positif, Kementerian BUMN Dorong Revolusi Komunikasi Digital Lewat AI dan Peran Karyawan sebagai Duta Perusahaan
Wamenkomdigi Nezar Patria Soroti Penyalahgunaan AI dan Deepfake, Perempuan dan Anak Rawan Jadi Korban
Dinilai Buruk ! Rating Film Animasi Merah Putih One for All Hanya 1,0 di IMDb. Selain Tak Mampu Gugah Emosi, Penonton Duga Plot Ceritanya dari AI
41 Persen Perusahaan PHK Massal hingga 2030, Dampak AI yang Kian Marak Dipakai Dunia Kerja Global
Kata Ekonom Soal Revolusi AI, Generasi Z Berada di Ambang Peluang dan Ancaman Nyata bagi Masa Depan Karier. Mengapa ?
5 Cara Menyusun Strategi Bisnis dengan Bantuan AI, Mulai dari Riset Pasar hingga Bangun Brand yang Kuat
Alasan AI Bukan Hanya Sekadar Tren, namun Jadi Kebutuhan Pekerja Remote di era Digital Masa Kini