Namun, data tersebut diragukan oleh George Plant, administrator Pulau Norfolk.
“Tidak ada ekspor yang diketahui dari Pulau Norfolk ke Amerika Serikat dan tidak ada tarif atau hambatan perdagangan non-tarif yang diketahui atas barang-barang yang masuk ke Pulau Norfolk,” ujar George Plant.
Pernyataan Albanese pun menyoroti kejanggalan dalam kebijakan tarif ini.
“Pulau Norfolk dikenai tarif sebesar 29 persen. Saya tidak begitu yakin bahwa Pulau Norfolk, sehubungan dengan itu, merupakan pesaing dagang dengan ekonomi raksasa Amerika Serikat, tetapi itu hanya menunjukkan dan memberi contoh fakta bahwa tidak ada tempat di Bumi yang aman dari ini,” katanya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Melayat Uskup Emeritus Mgr. Turang: Beliau Selalu Kerja untuk Rakyat Kecil
Hal yang lebih membingungkan adalah data terkait Pulau Heard dan Kepulauan McDonald.
Wilayah ini nyaris tak berpenghuni dan tidak memiliki fasilitas seperti bangunan permanen.
Meskipun demikian, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa Amerika Serikat mengimpor barang senilai 1,4 juta dolar AS (sekitar Rp22,8 miliar) dari wilayah ini pada tahun 2022.
Lebih lanjut, hampir seluruh nilai ekspor tersebut dikategorikan sebagai produk “mesin dan listrik”, meskipun tidak jelas bagaimana barang-barang tersebut berasal dari wilayah yang nyaris tidak memiliki aktivitas manusia.
Dalam lima tahun sebelumnya, nilai impor dari Pulau Heard dan Kepulauan McDonald berkisar jauh lebih rendah, yakni antara 15.000 dolar AS (sekitar Rp244 juta) hingga 325.000 dolar AS (sekitar Rp5,2 miliar) per tahun.
Ketidakkonsistenan data ini memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat ekonomi dan diplomasi perdagangan.
Kebijakan tarif perdagangan yang menargetkan wilayah-wilayah kecil dan tak berpenghuni seperti ini memunculkan kritik tajam.
Apalagi, dampaknya bisa jadi tidak sepadan dengan potensi ekonomi yang sebenarnya dimiliki wilayah-wilayah tersebut.
Sementara itu, publik dan pengamat kebijakan luar negeri menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi politik dagang Trump yang bersifat luas dan menyapu semua pihak tanpa terkecuali.
Artikel Terkait
Wamendagri Bima Arya Sugiarto Klaim Kebijakan WFA Efektif Atasi Kemacetan Mudik Lebaran 2025: Tahun Ini Rasanya Lebih Lancar
Jadwal Film Horor Trans 7 Lebaran 2025 Hingga 6 April : Ada Pengabdi Setan, Makmum 2 dan Lainnya
Lebaran Sudah Selesai, THR Eks Pekerja Sritex Belum Kunjung Dibayar, Bagaimana Kondisinya ?
Wamenaker Emmanuel Ebenezer Beri Kepastian tentang Kabar Sritex yang Akan Diambil Alih Danareksa
Hotman Paris Tawarkan Opsi untuk Atalia Praratya Menyikapi Perselingkuhan Ridwan Kamil: Bargaining Power untuk Damai
Alasan Google Rela Keluarkan Rp500 Miliar untuk Akuisisi Keamanan Milik Israel, Netralitas Dipertanyakan
Taruhannya Sistem Keamanan, Google Dikabarkan Beli Perusahaan Eks Mata-mata Israel Senilai Rp500 Triliun
Presiden Prabowo Subianto Melayat Uskup Emeritus Mgr. Turang: Beliau Selalu Kerja untuk Rakyat Kecil
ASEAN Kompak Hadapi Donald Trump ! Presiden Prabowo Subianto Bahas Langkah Respons Amerika Serikat bareng Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei
Bupati Kubu Raya Sujiwo Beri Donasi untuk Korban Kebakaran di Desa Limbung dan Kuala Dua