“Yang pertama itu kita masih sempat bersilat lidah, terus kita masih baku ancam, payu kudung, terus kali ketiga itu sempat terjadinya kriminal itu. Mereka ada empat orang. Saya sendirian. Saya takut, begitu saya ayun langkah, satu kali. Tangannya putus,” jelasnya.
Vonis delapan tahun dijatuhkan hakim. Ia mengajukan keringanan dan akhirnya menjalani hukuman enam tahun, yang dipotong remisi menjadi empat tahun enam bulan.
Kini peristiwa itu telah lama diselesaikan secara adat. Hubungan mereka pun kini kembali membaik. “Kemarin sudah damai. Dengan satu ekor kuda dan satu ekor kerbau”. Nada suaranya datar. Tak ada lagi amarah, hanya sisa kenangan.
Keluar dari penjara bukan berarti bebas dari hukuman sosial. Frederick kembali ke kebun. Jika ada proyek bangunan di sekitar desa, ia bekerja sebagai tukang pasang batu.
“Kalau kerja bangunan, 60 sampai 80 ribu per hari. Tapi itu pun kalau ada panggilan,” ujarnya.
Hasil kebun lebih tak menentu lagi. “Setahun paling sekitar 7–8 juta. Itu pun kalau panennya bagus”. Curah hujan yang tak pasti kerap membuat gagal panen. Ia menyebutnya sederhana: “Alam yang berkuasa.”
Tak mudah memulai lagi dengan label mantan narapidana. “Secara pribadi memang sulit. Tapi apapun dan bagaimanapun, saya jalani,” katanya tegar.
Kesempatan Kedua
Suatu hari, ia melihat bangunan baru berdiri di dekat tempat tinggalnya.
Ia bertanya kepada tetangga. Itu dapur MBG. Frederick memberanikan diri menawarkan tenaga. Ia pun diterima. “Sekalipun saya mantan narapidana, saya bersyukur masih diterima bekerja di sini,” ucapnya penuh syukur.
Sejak itu, hidupnya perlahan berubah. Ada kepastian insentif setiap bulan. Sesuatu yang dulu tak pernah ia rasakan ketika bergantung pada kebun dan proyek musiman.
“Kalau di kebun, saya tidak tahu alam yang berkuasa. Di sini saya hanya menunggu kapan menerima insentif,” kalimat itu diucapkannya dengan senyum kecil.
Dengan bekerja di dapur MBG, ia juga merasa bangga bisa menghadirkan senampan makanan sarat gizi untuk anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Anak kandung Frederick memang belum menjadi penerima manfaat MBG. Namun ia merasa bangga setiap kali melihat porsi makanan tersaji untuk para siswa.
Artikel Terkait
Bikin Takjub ! Content Creator Jerhemy Owen Spill Papan untuk Tembok dan Atap Bangunannya yang Terbuat dari Daur Ulang Plastik Sampah Sachet
Terus Hadir untuk Rakyat, TNI AD Pulihkan SD dan TK Terdampak Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Tapanuli Selatan
[KOLOM OPINI] Paradoks Regulasi 2026 : Ancaman Serius bagi Legalitas BUJK (Badan Usaha Jasa Kontruksi) dan Serapan APBD Daerah
Perkuat Barisan, Dony Ahmad Munir Gabung Gerindra ! Semangat Prabowo Dua Periode Langsung Menggema di Sumedang
Kini Jembatan Apung Penghubung Desa Sawang di Aceh Utara yang Dibangun TNI Hampir Jadi, Masyarakat Tak Perlu Naik Getek dan Bayar Rp20 Ribu Lagi
Panggil Sejumlah Menteri ke Hambalang Bogor, Presiden Prabowo Subianto Tekankan Diplomasi Ekonomi Harus Untungkan Indonesia
Pakar Militer Anggap Kehadiran Indonesia di BoP Penting Agar Israel Tak Memonopoli Narasi, Ini Penjelasannya
MBG Prasmanan di Sukabumi Ciptakan Kebersamaan di Sekolah, Siswa Gembira
Ide Gentengnisasi Presiden Prabowo Disambut Positif Komunitas UMKM di Jabar, Bisa Angkat Ekonomi Rakyat
Langkah Diplomasi Langsung ! Presiden Prabowo Subianto Didampingi Seskab Teddy hingga Menteri Bahlil Terbang ke Amerika Serikat untuk Bertemu Trump