Mbah Harjo mengaku perjalanan panjang dari Surabaya ke Madinah cukup melelahkan.
Namun kakek asal Ponorogo ini mengaku senang dan sehat setibanya di Madinah.
Berbincang dengan petugas, terungkap saat muda Mbah Harjo merupakan pejuang '45.
Dia mengaku pernah ikut perang melawan Belanda.
"(Perang melawan Belanda) Pakai pentungan," kata Mbah Harjo.
Sirmat, anak Mbah Harjo menjelaskan ayahnya terdaftar sebagai pejuang veteran.
Teman seangkatannya sudah tidak ada, hanya Mbah Harjo yang masih hidup.
"Dari kelompok veteran, tinggal Bapak yang masih ada," kara Sirmat.
Mbah Harjo merupakan pensiunan perangkat desa. Dia juga petani di kampung.
Dan Mbah Harjo masih beraktivitas seperti biasa di usia senjanya.
Sirmat menjelaskan kondisi fisik sang ayah.
Sebenarnya, Mbah Harjo masih bisa jalan dengan bantuan tongkat.
Mbah Harjo memakai kursi roda hanya untuk mempercepat pergerakan saja. Tak hanya itu, sebagai antisipasi, Sirmat juga membawa kursi roda dari Tanah Air untuk berjaga-jaga.
"Sebenarnya bisa jalan sendiri, pakai kursi roda untuk mempercepat pergerakan saja, agar tidak merepotkan yang lain," kata Sirmat.