KALIMANTANSATU.COM, SUMBA BARAT DAYA - Di sudut meja persiapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ramadana, Kecamatan Laura, Sumba Barat Daya, Frederick Norewa berdiri dengan pisau di tangan saat siang itu.
Potongan ayam, irisan wortel, kacang panjang, buncis, hingga tempe tertata rapi menunggu tim juru masak.
“Saya potong-potong ayam kalau ada menu ayamnya, terus wortel, kacang panjang, buncis, tempe. Bawang ada juga, bawang putih, bawang merah,” ujarnya saat ditemui di tempatnya bekerja, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga: MBG Prasmanan di Sukabumi Ciptakan Kebersamaan di Sekolah, Siswa Gembira
Frederick adalah bagian dari tim persiapan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tugasnya mungkin terlihat sederhana, tetapi dari tangannya ribuan porsi makanan bermula.
Ia memperkenalkan diri dengan tenang.
“Saya Frederick Norewa, asal dari Desa Letekonda.” ungkapnya.
Di balik ketenangan itu, ada cerita panjang yang tak mudah.
Tahun 1991 silam menjadi titik gelap dalam hidupnya.
Frederick terseret kasus penganiayaan berat akibat sengketa batas tanah dengan sepupu jauhnya.
“Itu masalah perbatasan tanah. Bukan karena ekonomi,” katanya.
Awalnya hanya adu mulut. Namun situasi memanas.