ICCN Bareng Yayasan Lintas Batas Gelar ICF 2026 ! Angkat Boon Pring sebagai Ruang Hidup, Satukan Budaya, Alam dan Ekonomi

photo author
R Ridho Triwi D.N, Kalimantan Satu
- Selasa, 5 Mei 2026 | 19:43 WIB
Indonesia Creative Cities Network (ICCN) bekerja sama dengan Yayasan Lintas Batas menyelenggarakan Indonesia Culture & Creative Festival (ICF) di Kota dan Kabupaten Malang, Jawa Timur pada 8–10 Mei 2026. (Kalimantansatu.com/Dok. ICCN)
Indonesia Creative Cities Network (ICCN) bekerja sama dengan Yayasan Lintas Batas menyelenggarakan Indonesia Culture & Creative Festival (ICF) di Kota dan Kabupaten Malang, Jawa Timur pada 8–10 Mei 2026. (Kalimantansatu.com/Dok. ICCN)

Pada sesi festival kreatif, Seto Hari Wibowo, Zandri Aldrin, Muhammad Anwar, dan Aditya Bayu S membahas bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan moderator Wahono Eko Putro dan Mary Jona.

Tema cipta ruang juga menjadi perhatian melalui diskusi tentang optimalisasi aset bangunan cagar budaya dengan pendekatan placemaking.

Sesi ini menghadirkan Dino Afriano S, Sutanrai Abdillah, Singgih R. K., dan Diaz R, dengan moderator Okta Rika dan Raffiudin.

Selain itu, pemaparan expertise terkait manajemen tata kelola Living Museum menghadirkan Ida Bagus G., Suroso, dan Singgih R. K., yang membahas model pengelolaan kawasan berbasis komunitas.

Hari kedua dan ketiga difokuskan di Boon Pring melalui program cultural residency yang melibatkan kolaborasi antar institusi kebudayaan.

Program ini menghadirkan praktisi seperti Dino Afriano S, Ratna Setyaningsih, dan Pringga Adityawan dalam berbagai kegiatan seperti Jelajah Nusantaraya, Jelajah Rasa, serta Sekolah Bambu.

Direktur Program ICF, Seto Hari Wibowo, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis pengalaman menjadi inti dari festival.

Baca Juga: Sinergitas Pemkab Pulau Taliabu dan ICCN untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi Melalui Ekosistem Kota/Kabupaten Kreatif

“Peserta tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi terlibat langsung dalam proses, mulai dari eksplorasi hingga produksi pengetahuan,” ujarnya.

Dalam rangkaian lanjutan, sesi terkait activity living museum, stakeholder mapping, dan business matching menghadirkan Seto Hari Wibowo, Muhammad Anwar, Aditya Bayu S, Alan Wahyu H, serta Sutanrai Abdillah, dengan moderator Mary Jona dan Nadira Siti N. Diskusi ini berfokus pada penguatan rantai pasok ekonomi dan peluang pasar bagi produk lokal.

Deputi Ekosistem Kreatif ICCN, Zandri Aldrin, menilai bahwa interaksi langsung menjadi kekuatan utama festival.

“Pendekatan ini membuka ruang dialog antara gagasan dan praktik, sehingga hasilnya lebih kontekstual dan aplikatif,” katanya.

Selain diskusi dan residensi, festival juga menghadirkan Leader’s Talk, pemetaan strategis kawasan, serta forum business matching dan penandatanganan MoU yang bertujuan membangun kolaborasi berkelanjutan.

Deputi Kemitraan Strategis ICCN, Dadik Wahyu Chang, menegaskan pentingnya keberlanjutan program.

“Festival ini dirancang sebagai titik awal kerja sama yang lebih luas, termasuk dengan pemerintah, kampus, komunitas, dan sektor swasta,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: R Ridho Triwi D.N

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X